Cerita dari Gundukan Puing di Samping Tenda Merah ‘ceper

Indeptnews, Opini1105 Dilihat

Oleh:  Ilhamsyah Mirman (Ranah Rantau circle)

CIEK PIAH, ciek piah mangumpuan pitih dibalian ameh. Lah takumpua ambo bangun rumah ko. Indak ado surang juo nan mambantu”, penuh semangat, dengan sedikit ‘teloh’, Amak (65 tahun) warga Jorong Rimbo Batu bercerita.

Kini habih,.. kicek tukang dibongka“, tiba-tiba warga Kajai terdampak gempa 6,1 SR sesunguk, menahan gelimang air mata. Tidak terbayang olehnya bagaimana di sisa usia tuanya harus membangun kembali rumah seperti itu.

Sementara lain pula pengalaman seorang warga Nagari Aua Kuning, kecamatan Pasaman, kabupaten Pasaman Barat.

“Sudah tiga tukang menolak memperbaiki rumah seperti yang disarankan, mudah-mudahan tukang dari Talu ini mau mengerjakan”, ucap Risa (40 tahun) pedagang kue di Pasar Kajai.

Baca Juga :  Ramal Saleh Terobos Hujan dan Gelap Malam Antar Bantuan untuk Korban Gempa Pasbar

“Umumnya tukang menyuruh bongkar”, lanjutnya, sambil memperlihatkan rumah kiri kanan tetangganya. Bak suasana Ukraina yang baru saja di bombardir Rusia. Hancur lebur jejeran bangunan tak berbentuk. Centang perenang sisa bangunan yang di sela-selanya tegak hunian sementara (huntara) dan tenda merah ‘ceper’.

Gambaran keadaan terkini dihampir semua sudut Nagari Kajai inilah yang menjadi pendorong Ilhamsyah Mirman Founder Ranah Rantau circle (RRc) bersama Dr. Ir. Febrin Anas Ismail, MT dan Bayu Martanto Adji, Ph.D dari Pusat Studi Bencana (PSB) Unand berjibaku ditengah terik matahari siang bulan Ramadhan.

Walinagari Kajai Ibu Ramadhani dan Ketua Bamus Suryanum, tidak kalah bersemangatnya mengajak ke rumah warga yang sedang gamang.

“Sesuai kesepakatan sebelumnya, maka saat sosialisasi dan edukasi Klinik Konstruksi kali ini kami arahkan ke Jorong-jorong”, ungkap Ibu Wali Ramadhani.

Baca Juga :  Laporan Ilhamsyah Mirman di Daerah Epicentrum, 9 Hari Pasca Gempa Banyak PR Menggantung!!!

“Dengan segala kerendahan hati kami sangat berterima kasih kepada Team Unand yang menjawab langsung aneka pertanyaan warga”, sambung Ketua Bamus Ibu Suryanum, yang tempat tinggalnya di Timbo Abu jadi lokasi pertama Klinik Konstruksi.

Kehadiran berbagai komponen Universitas Andalas ini menjadi langkah konkrit himbauan WR 3 Insannul Kamil saat zoom meeting satu bulan gempa Pasaman Barat. “Unand harus tampil kedepan mempelopori tahap rehab rekon”.

Kolaborasi yang didukung Dinas Perkimtan Sumbar, DPP IKA Unand, KOGAMI, Jurusan & KATUA Teknik Sipil (JTS & KTS) seakan berlomba dengan pandangan yang berkembang dibenak masyarakat. Agar tidak membahayakan, maka jalan satu-satunya bangunan harus dibongkar.

Apakah memang demikian ? Pak Febrin berpendapat lain. Dari pengalamannya, justru terbuka peluang untuk memperbaiki rumah selagi masih tegak berdiri.

Baca Juga :  Bengkel Literasi Rakyat Sumbar Bantu Korban Gempa

Dengan metode perbaikan menggunakan kawat anyam diyakini bisa menjadi alternatif. Hal ini sesuai dengan hasil uji laboratorium Jurusan Teknik Sipil Unand maupun di Jepang.

Ditambah dengan pengalaman ikut membantu perbaikan rumah sejak gempa tahun 2009, hingga yang terakhir di Palu & Lombok membuat ketiga orang pencetus berkeyakinan untuk terus mengedukasi bergerak mendatangi langsung rumah-rumah warga.

Hingga program seri ketiga hari Sabtu esok, tampaknya akan banyak bertemu dengan Risa, Amak, dan banyak ‘Amak’ yang lain.

Mendengar kisah panjang membangun istana kebanggaan, dan bagaimana perjuangan mempertahankan sejarah setelah bumi menghoyak.

Hingga saat Ramadhan ini.

#1/4TimboAbu060422





Komentar