Mengurai Sengkarut Macet Saat Mudik di Sumatera Barat

Opini935 Dilihat

Oleh : Ilhamsyah Mirman

(Ketua KTS/Founder RRc)

FOCUS Group Discussion (FGD) “ Macet Mudik Sumatera Barat, Masalah dan Solusi” Selasa 10 Mei 2022 di Pusako Alam Plantshop & Coffee, Padang berlangsung dengan hangat dan penuh ide kreatif.

FGD digelar untuk menjawab permasalahan klasik saat mudik lebaran. Acara dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi, yang juga bertindak sebagai Special Speakers dengan paparan langkah yang dilakukan pemerintah daerah dalam merespon gelombang perantau yang pulang kampung.

Gubernur sangat mengapresiasi upaya berbagai pihak yang membantu pemudik untuk mendapatkan informasi saat berada di Sumatera Barat. SMS Gateway dan Layanan Pengaduan Hotline adalah diantara inovasi pemerintah untuk memberikan pelayanan.

Terkait kemacetan akibat kedatangan 1,8 juta orang dibeberapa titik jalan, langkah yang dilakukan di antaranya dengan menyediakan Pos Keamanan dan Kesehatan di beberapa titik, perbaikan jalan dan rekayasa lalu lintas, optimalisasi penggunaan jalur alternatif dengan memastikan kondisinya layak untuk dilalui.

Untuk kedepannya akan diupayakan reaktifasi beberapa koridor jalur kereta api, pembangunan fly over dan ruas jalan baru, termasuk upaya percepatan penyelesaian pembangunan Jalan Tol Padang – Pekanbaru.

FGD digagas Ketua KATUA Teknik Sipil (KTS) Ilhamsyah Mirman bersama Yosritzal, Ph.D (Ketua Pustrans) ini didahului dengan kata pengantar oleh Dr.-Ing. Ir. Uyung Gatot Syafrawi Dinata, MT (Ketua LPPM Universitas Andalas). Uyung menyampaikan bahwa fenomena macet di Sumatera Barat sebagai akibat aktifitas mudik lebaran selalu terjadi setiap tahun. Untuk itu diharapkan dari FGD ini muncul gagasan untuk mengatasi masalah tersebut.

Melalui Pusat Transportasi, Universitas Andalas mempunyai kompetensi dan kapasitas yang bagus dalam membantu menyelesaikan masalah transportasi di Sumatera Barat.

Pemantik diskusi oleh Yosritzal, menyorot acap kali terjadi perlambatan. Memang perlambatan perjalanan tidak mudah dihilangkan, namun bisa dikurangi dengan kehadiran petugas di lapangan mengurai kemacetan melalui manajemen dan rekayasa lalu lintas. Selain itu, perlu dipikirkan solusi jangka panjangnya yang lebih berdampak seperti pengaktifan kembali jalur kereta api Padang-Bukittinggi-Payakumbuh, menambah jalur alternatif yang solutif, seperti penyelesaian jalan Lubuk Minturun – Paninggahan, dan alih kewenangan dan peningkatan jalan Ampang Kualo Aripan Kacang Bukit Kanduang.

Harus dicarikan alternatif jalan selain jalan utama yang ada saat ini untuk jalan antar kota dalam provinsi dengan kualitas yg sama dengan jalan utama. Hal ini akan membantu peningkatan ekonomi di daerah yang dilewati jalan tersebut sekaligus mengatasi keterisoliran daerah saat ada bencana.

Dalam FGD, sesi dipandu  Sekretaris Pustrans, Bayu Martanto Adji, Ph.D, sebagai moderator. Sebagai pembuka Bayu mengatakan bahwa tujuan dari FGD ini adalah memberikan gambaran macet yang disebut oleh aktifitas pulang kampung pada Hari Raya idul fitri 1413 H, serta Solusi dari berbagai stakeholder sesuai dan keahlian dan wewenang masing-masing.

Gambaran pertama di sampaikan Nurfirmanwansyah, Anggota DPRD komisi IV yang membidangi Infrastruktur. Dilanjutkan oleh Herri Noviardi, SE., MM. (Kadishub Sumbar) yang menyampaikan bahwa ada 800 ribu kendaraan yang masuk ke Sumatera Barat selama mudik lebaran tahun ini, macet banyak terjadi di ruas jalan nasional karena salah satu penyebabnya adalah di jalan nasional tersebut banyak terdapat destinasi wisata.

Langkah penanganan dilakukan seperti menyiapkan jalan alternatif. Ada beberapa kendala yang dihadapi, termasuk kekurangan petugas. Solusi yang menyediakan satuan tugas pengurai kemacetan, pemasangan beberapa rambu lalu lintas, penambahan kantong rest area pada destinasi wisata/rumah makan dan rekayasa lalu lintas.

Selanjutnya, Syahputra A. Gani, S.T, M.T (Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Sumatera Barat) menyampaikan bahwa solusi yang ditawarkan untuk jangka pendek berupa penataan simpang sebidang dan hambatan samping, semisal penataan pasar tradisional sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas. Sedangkan meningkatan kapasitas, pembangunan Jalan alternatif dan flyover dimasukkan dalam solusi Jangka panjang.

Adrian Tuswandi, SH (JPS Sumbar) menekankan pentingnya aksi nyata dari serangkaian pandangan dan analisis para pakar dan penentu kebijakan yang hadir hari ini.

Jangan sampai menjadi ‘macan kertas’. Hendaknya pertemuan ini bisa merekomendasikan langkah konkrit serta mengawal rumusan tersebut dilapangan, agar ‘horor mudik’ tidak berulang kembali.

Hadir pula berbicara sejumlah pengambil kebijakan dan pakar serta pemerhati transportasi, antara lain Dr. Suranto (Kepala Balai Kereta Api Divre II Sumatera Barat), Purnawan Ph.D (Ketua MTI Wilayah Sumatera Barat), Yosyaffra Ph.D, (Ketua MASKA), Dr. M Zuhrizul (Pelaku Wisata), Dr. Wirdanengsih (FIS UNP), Wempie Yuliane, SE. M.SE. M.Sc (Pengamat Ekonomi Pembangunan), Syafriawati (Penggiat Wisata) dan dari Ombudsman Sumatera Barat, Adel Wahidi.

Penulis di sesi akhir menyimpulkan tentang perlunya meningkatkan kolaborasi dan kepedulian publik terhadap permasalahan kemacetan ini. Salah satunya dengan mengedukasi masyarakat dijalur alternatif untuk bisa membantu pengguna jalan yang lalu di kampungnya.

Penambahan rambu jalan penunjuk arah serta menjamu pemudik di mesjid/mushalla jalur alternatif bisa menjadi satu pengalaman menarik yang tak terlupakan. Ditambah bonus pemandangan dan keasrian alam pedesaan, bisa menjadi nilai plus jalur alternatif bagi para pemudik.

Peserta FGD sepakat bahwa diskusi ini harus ada tindak lanjut, diantaranya dengan membuat grup WA yang akan merumuskan bulir-bulir pemikiran FGD kali ini sekaligus membahas langkah bersama untuk kedepannya. Paling tidak ada dua moment dalam waktu dekat, masa libur sekolah (Juli-Agustus) dan libur tahun baru (Desember-Januari). Pada kedua iven ini bisa terlihat kesungguhan kita mengatasi permasalahan macet di Sumatera Barat.(***)

Komentar