Sebuah Catatan Peradaban, Kemerdekaan Pers

Budaya, Opini658 Dilihat

Oleh: Jodhi Yudono

Ketua Umum DPP IWO

SAAT terpilih menjadi Ketua Umum Ikatan Wartawan Online (IWO) pada 9 Oktober 2017 melalui musyawarah bersama para wartawan online seluruh Indonesia di Jakarta, saya langsung mengeluarkan pernyataan bahwa IWO bukan sekadar sekumpulan wartawan online belaka, tetapi anggota IWO adalah pelaku kebudayaan yang harus turut membangun peradaban dan kemanusiaan.

Dua hal inilah yang saya kira harus menjadi perhatian wartawan. Jurnalis bukan hanya penyampai pesan, tetapi juga memiliki kesadaran bahwa dari tulisannya, dari berita yang disiarkannya, akan berdampak besar pada peradaban dan kemanusiaan.

Baca Juga :  Sikap AJI Soal RUU KUHP, "Hapus Pasal Bermasalah"

Saya pun segera menyusun kepengurusan dengan mengumpulkan kawan-kawan se-visi. Duduk menjabat sebagai Dewan Kehormatan Pengurus Pusat IWO ada August Parengkuan (alm) dan Pepih Nugraha (keduanya wartawan Kompas, serta Mohammad Sobary (budayawan).

Selain tiga nama tersebut, saya juga merekrut seorang anak muda yang memiliki perhatian mendalam terhadap dunia media, dialah DR. Ibnu Mazjah yang saya dudukkan pada jabatan Dewan Pakar IWO.

Baca Juga :  Bahan Pokok Tidak Stabil dan Inflasi Tinggi Ulah Pertalite

Dedikasinya yang tinngi terhadap pengetahuan media, membawanya menjadi komisioner di Komisi Kejaksaan Republik Indonesia. Kendati sudah menjadi komisioner di Komisi Kejaksaan, silaturahmi Ibnu dengan IWO tetap intens.

Saya pribadi masih mengikuti jejak intelektual Ibnu melalui diskusi-diskusi kecil maupun rencana beliau yang hendak menulis buku.

Saya senang, sebab Ibnu masih terus merawat kegelisahannya tentang banyak hal. Mulai kehidupan wartawan hingga regulasi pers yang ambigu. Mulai soal hak asasi manusia, hingga  rontoknya dalil Undang-Undang Pers Sebagai Lex Specialis.

Baca Juga :  Bulan Mei segera berakhir dan kita memasuki bulan Juni

Saya sependapat dengan Ibnu, betapa peradaban masyarakat yang kian berkembang dari masa ke masa adalah sebuah keniscayaan dan merupakan proses alam yang tidak dapat terhindarkan.

Oleh karena itu, hukum sebagai sarana untuk menciptakan ketertiban bagi masyarakat sudah seyogyanya dapat menyesuaikan diri. Perubahan terhadap hukum sudah tentu dimulai dari paradigma masyarakatnya dalam. (***/facebook @jodhi…)

Komentar