Ulah Minyak Goreng, Keripik Sanjai Gurih Bisa Tinggal Kenangan

Ekbis, Indeptnews931 Dilihat

FIXSUMBAR —Pengusaha Keripik Sanjai di daerah asalnya wilayahnya Bukittinggi, Sumatera Barat terpaksa membatasi produksinya karena langka dan mahalnya Minyak Goreng serta ubi di pasaran, jika berkeanjangan kerupuk sanjai gurih ini bisa tinggal kenangan.

Jika kondisi seperti ini berlarut-larut maka puluhan tungku produksi keripik sanjai (pondok karupuak) bisa gulung tikar dibuatnya, Keripik Sajai dibenamkan oleh minyak goreng mahal

Beberapa tempat produksi Keripik Sanjai yang biasa disebut “Pondok Karupuak” terlihat tidak beraktifitas dan membatalkan pesanan para pedagang di pasaran serta berhenti sementara menerima ubi yang menjadi bahan dasar pembuatan makanan populer asal Kota Wisata itu.

“Biasanaya ketika minyak goreng harganya terjangkau dan tidak langka seperti sekarang ini, biasanya kami memproduksi lima kali dalam seminggu dengan membutuhkan minyak goreng 40 kilogram setiap harinya, total habis 200 kilogram setiap pekan,” kata  Jubaidi Petit, seorang pengusaha Kerupuk Sanjai asal Bantodarano

Baca Juga :  Lado Menuju Rp 70 Ribu per Kilo, Minyak Goreng Langka, Hadapi itu Eri Gas Ajak Berdayakan Pekarangan Rumah

40 kilogram minyak goreng curah itu biasa dibeli dengan harga sekitar Rp400 ribu atau sekitar Rp9 ribu per liter dan menghasilkan keuntungan yang cukup besar bagi pengusaha Sanjai

“Kini harganya jauh naik menjadi Rp800 ribu, itupun langka didapatkan hingga produksi bahkan hanya sekali seminggu, diperparah dengan mahalnya harga ubi yang semula hanya Rp100 ribu per karung ikut-ikutan naik jadi Rp200 ribu sekarungnya,”ujar Junaidi menggeleng.

Menurutnya, ubi yang sebagian besar berasal dari Kabupaten Lima Puluh Kota itu mahal dan langka sebelum kasus minyak goreng saat ini terjadi.

Baca Juga :  Budi Syukur, Ketua PASI Pengprov Sumbar:Lomba Lari Minangkabau 10 K Sukses

“Jadi semakin berat perjuangan memproduksi Kerupuk Sanjai kini, sempat kami dibantu dengan minyak goreng bersubsidi dengan harga sekitar Rp15 ribu, itu masih ada keuntungan walaupun kecil, tapi kini dengan harga Rp20 ribu lebih per liter, kami tekor merugi tak sanggup berproduksi,” kata Junedi.

Pengusaha dan pedagang Sanjai lainnya Apriyos Datuak Mangkuto menambahkan, tidak bisa memesan ubi sebelum memastikan ketersediaan minyak ada di pondok karupuaknya.

“Beberapa pondok kerupuak memiliki kemampuan berbeda memproduksi, ada yang biasa 40 kilogram sehari ada yang mencapai 180 kilogram, ubi hanya bisa dipesan jika minyak goreng sudah pasti tersedia karena ubi hanya bisa bertahan paling lama dua hari setelah dipesan,” ujar Datuk Mangkuto.

Baca Juga :  Masyarakat Ramai Datang, Anies Baswaedan Berkunjung Kerumah Lahir Bung Hatta

Datuk Mangkuto mengatakan bisa saja Kerupuk Sanjai menjadi makanan langka dan sangat mahal di kemudian hari jika harga dan kelangkaan minyak goreng dan ubi tidak menemukan solusi permasalahan

“Bukan tidak mungkin Keripik Sanjai hilang di seluruh pasaran, apalagi jelang ramadhan ini dan menuju lebaran nanti ketersediaan minyak goreng lebih dibutuhkan, kami hanya bisa menunggu harga minyak turun dan mudah didapatkan,”uajrnya pasrah.

Menurutnya, Pedagang Keripik Sanjai yang lebih besar kemungkinan bertahan saat ini hanyalah pelaku usaha dengan modal besar atau pengusaha yang sekaligus menjual hasilnya langsung di Pondok Karupuak.(tim/fjkip-bkt)

Komentar