Yogi Yolanda, Aklamasi Ketuai DPD PA GMNI Sumbar

straightnews435 Dilihat

FIXSUMBAR — Yogi Yolanda dipilih aklamasi oleh peserta Konferda I Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Sabtu 23 Juli 2022.

Konferda PA GMNI Sumbar di Bukittinggi juga mencapai target pelaksanaan yaitu menjadi rumah gadang kaum nasionalis.

“Konferda kita gelar di Istana Bung Hatta menjadi lompatan besar membumikan kembali Sumbar sarang kaum nasionalism Apalagi Konferda PA GMNI dihadiri deretan  tokoh nasional dan daerah, ada kepala daerah, praktisi pemilu hingga para pengusaha nasionalis. Bahkan pembukaan Konferda dilakukan langsung Ketua Umum DPP PA GMNI ynag juga Hakim Mahkamah  Konstitusi bapak Arif Hidayat,”ujar Yogi Yolanda kepada wartawan di sela-sela Konferda.

Konferda PA GMNI Sumbar bertemakan Konsolidasi Gerakan Nasionalis di Sumatra Barat diharapkan mampu membakar semangat para alumni untuk melanjutkan perjuangan yang sudah digariskan Bung Karno.

“Memilih Kota Bukitinggi sebagai tenpat digelatnya Konferda juga dalam rangka. menapaktilas Proklamator Bung Hatta. Kota Bukittinggi ini sangat kaya akan sejarah. Kami sangat bahagia bisa menggelar Konferda di Istana Bung Hatta. Sebagai Founding Father, Dwi Tunggal Bung Karno dan Bung Hatta tidak bisa dipisahkan. Bung Karno merupakan tokoh nasionalis yang mampu menghasilkan teori Marhaeinisme. Bung Hatta juga tokoh nasionalis yang menghasilkan teori ekonomi, yaitu koperasi. Dan Kota Bukittinggi pernah menjadi basis PDRI. Inilah semangat nasionalisme yang ingin kami tularkan ke para kader dan alumni GMNI,”ujar Yogi.

Baca Juga :  Hari ini, UNP Buka Penerimaan Mahasiswa Baru Fakultas Kedokteran Angkatan Perdana

PA GMNI kata Yogi merupakan rumah para nasionalis Indonesia yang terus menggelinding menjadi besar bagai sebuah bola salju. Selama setahun terakhir di Sumatra Barat telah terbentuk tujuh cabang PA GMNI. Karena itu, Yogi berkeyakinan para alumni akan menjadikan GMNI dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat Sumbar.

Ketua Umum DPP PA GMNI, Prof Arief Hidayat mengaku sudah ribuan kali membaca pembukaan UUD 1945 terhitung sejak kuliah hukum.

Makna terdalam yang ditemukan menyimpulkan, kemerdekaan disusun berdasarkan keinginan Top-down, dan Bottom-ip. Ada frasa keinginan luhur bangsa bersatu secara bersama-sama untuk merdeka, kemudian keinginan itu diridhai oleh Allah Yang Maha Kuasa.

Baca Juga :  FORKI Apresiasi Turnamen Karate Akbar se-Sumbar Hasvaganza 2023 ITB HAS Bukittinggi

“Ada heterogenitas luar biasa pada perwakilan PPKI dan BPUPKI. Namun mereka mampu menghasilkan pembukaan UUD 1945 yang sangat luar biasa. Andai saat itu dilakukan sistem voting, maka besar kemungkinan bahasa yang dipakai sebagai bahasa persatuan adalah bahasa Jawa. Begitu pula dengan Pancasila sebagai ideologi negara, tidak akan ditetapkan jika tidak disepakati bersama. Kelompok Islamis yang ada di dalam unsur panitia sembilan bahkan sudah belajar agama sampai ke Timur Tengah, namun mereka sudah mendalami sikap toleransi dan berjiwa besar untuk bersatu,” katanya.

Prof Arief menyoroti konten media sosial hari ini mengandung narasi yang berpotensi memecah-belah bangsa. Krena itu ia ber lharap PA GMNI mengisi narasi medsos yang meneladani pendiri bangsa dalam memupuk persatuan.

“PA GMNI adalah organisasi intelektual Indonesia, karena mayoritas alumni adalah jebolan universitas. Kita beruntung mengenyam pendidikan tinggi di Indonesia, karena itu kita wajib mewakafkan pemikiran di seluruh aspek kehidupan. Mari jadikan PA GMNI sebagai wadah berkumpulnya intelektual yang nasionalis,” ajaknya.

Baca Juga :  Budi Syukur, Ketua PASI Pengprov Sumbar:Lomba Lari Minangkabau 10 K Sukses

Era disrupsi teknologi saat ini, sambung Prof Arief, marak ideologi yang tidak sesuai Pancasila ingin menghancurkan Indonesia sebagai kandidat negara besar. Katanya, hal itu sudah ditempuh melalui media sosial.

“PA GMNI harus mampu membendung itu semua. Membentengi negara ini dari ideologi yang tidak menginginkan indonesia menjadi negara besar,” tegasnya.

Arief yang pernah menjadi Ketua MK sejak 14 Januari 2015-2017 dan kembali terpilih 14 Juli 2017-2020 menambahkan, masyarakat di Sumbar masih sangat heterogen. Bahkan, ada yang sudah hidup sejak abad silam dan kini dihadapkan dengan kemajuan teknologi. Karena faktor itu, maka mengaturnya akan sangat sulit.

“Setelah Konferda ini, saya berpesan agar PA GMNI selalu memberi masukan konstruktif ke semua lini pemerintahan,” pungkasnya.(dri)

Komentar