MADANI Berkelanjutan Perkuat Gerakan Perempuan dan Disabilitas untuk Keadilan Iklim

Seorang juru bicara isyarat (JBI) menerjemahkan komunikasi ke dalam bahasa isyarat untuk membantu beberapa peserta Workshop In-Climate Connect penyandang disabilitas tuli.  Credit  Foto : MADANI Berkelanjutan
Seorang juru bicara isyarat (JBI) menerjemahkan komunikasi ke dalam bahasa isyarat untuk membantu beberapa peserta Workshop In-Climate Connect penyandang disabilitas tuli. Credit Foto : MADANI Berkelanjutan

JAKARTA - MADANI Berkelanjutan memperkuat kolaborasi gerakan perempuan, penyandang disabilitas, dan lingkungan hidup melalui workshop IN-CLIMATE CONNECT: Terhubung, Berbagi, dan Beraksi untuk Keadilan Iklim di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, pada 12-14 Oktober 2026.

Kegiatan ini melibatkan 30 perempuan muda dan perempuan penyandang disabilitas dari Jakarta dan Kalimantan Barat untuk memperkuat kapasitas advokasi serta mendorong kebijakan iklim yang inklusif dan berkeadilan.

Dalam pembukaan kegiatan, Giorgio Budi Indrarto dari Badan Pengurus MADANI Berkelanjutan menegaskan bahwa kelompok rentan bukan berarti lemah, tetapi kerap menghadapi dampak krisis iklim dengan risiko dan hambatan yang lebih besar.

“Keadilan iklim adalah soal keselamatan semua manusia, tentang bagaimana semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk selamat,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima, Kamis (15/10/2026).

Menurut Giorgio, kolaborasi lintas gerakan diperlukan agar perspektif gender dan disabilitas menjadi bagian dari perumusan kebijakan serta pelaksanaan aksi iklim.

Workshop ini menghadirkan sejumlah organisasi masyarakat sipil, di antaranya Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Women Research Institute (WRI), dan Solidaritas Perempuan.

Linarti dari Koalisi Perempuan Indonesia menyoroti pentingnya pendekatan kesetaraan gender dan inklusi sosial untuk mengidentifikasi kelompok yang membutuhkan dukungan afirmatif.

Sementara itu, Mahretta Maha dari HWDI menegaskan bahwa penyandang disabilitas harus dilibatkan dalam seluruh tahapan kebijakan iklim.

“Hambatan bukan lahir dari ragam disabilitas, melainkan dari lingkungan, aturan, dan sikap yang belum aksesibel. Penyandang disabilitas harus dilibatkan sejak perencanaan hingga evaluasi aksi iklim, bukan dicari ketika butuh peserta,” katanya.

Selama tiga hari, peserta membahas keadilan iklim berbasis GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion), adaptasi dan mitigasi berkeadilan, kehilangan dan kerusakan (loss and damage), serta strategi kampanye dan komunikasi publik.

Editor : Fix Sumbar
Banner JMSI 2026Banner - Berita Duka Bpk Azwar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini