Pasar Ghoib

Foto Two Efly

Alam selalu berjalan dalam dua sisi. Ada terang dan ada gelap. Ada kanan dan ada kiri. Ada atas dan ada bawah. Kita mengenal dunia yang kasat mata—yang bisa disentuh, diraba, dihitung, dan diukur. Namun kita juga memahami adanya dunia yang tak kasat mata—yang tak terlihat, tetapi nyata dampaknya.

Dalam ilmu ekonomi, hukum dua sisi itu pun berlaku. Kita mengenal pasar persaingan sempurna, monopolistik, oligopoli, hingga monopoli. Masing-masing memiliki karakter, mekanisme, serta konsekuensi bagi kehidupan masyarakat. Semua beroperasi dalam ruang nyata: ada bangunan, ada interaksi, ada aktivitas fisik yang dapat disaksikan.

Namun kini, di tengah derasnya arus teknologi, lahir satu bentuk pasar baru. Pasar yang tak memiliki bangunan. Tak punya pintu. Tak punya etalase kaca. Tak ada papan nama di pinggir jalan. Ia tak berdiri di atas tanah yang bisa ditunjuk. Tak membutuhkan ruko. Tak perlu menyewa lapak.

Pasar ini sunyi tetapi riuh. Tak terlihat tetapi masif. Tak berbatas wilayah tetapi menjangkau seluruh dunia.

Inilah yang saya sebut sebagai pasar ghoib.

Pasar ghoib hidup di dunia maya. Ia bergerak melalui jaringan internet, sinyal, dan paket data. Selama koneksi tersedia dan baterai gawai menyala, pasar ini tetap buka. Ia tak mengenal jam operasional. Tak mengenal hari libur. Tak ada istilah tutup toko karena hujan atau sepi pembeli.

Transaksi bisa terjadi tengah malam. Belanja bisa dilakukan saat subuh. Harga bisa dibandingkan di sela rapat. Bahkan dalam perjalanan, orang tetap bisa “cuci mata”.

Seandainya waktu lebih dari 24 jam, pasar ini pun akan tetap beroperasi tanpa lelah.

Beragam kanal menjadi pintu masuknya. Platform niaga elektronik, aplikasi belanja daring, hingga media sosial pribadi yang berubah fungsi menjadi lapak. Shopee, Bukalapak, Tokopedia, Lazada, dan sederet platform lain hadir di layar gawai masyarakat. Ditambah lagi Instagram, Facebook, TikTok, dan WhatsApp yang menjelma menjadi etalase digital.

Pasar kini tidak lagi kita datangi. Ia yang datang mengetuk layar kita.

Banner Ultah Danantara
Bagikan

Opini lainnya
Terkini