BWCF, misalnya, ikut berperan dalam pelestarian nilai dan warisan budaya, yaitu mengangkat tema-tema yang berakar pada kearifan lokal, sejarah, dan spiritualitas Nusantara.
Misalnya, ajaran Borobudur, tradisi lisan, naskah kuno, dan kebudayaan agraris. Selain itu, BWCF menjadikan Borobudur sebagai ruang refleksi budaya dan spiritual, sehingga nilai-nilai warisan leluhur tetap hidup dalam konteks modern.
“Masyarakat pun bisa merasakan dampak dari kegiatan-kegiatan BWCF dalam bidang ekonomi kreatif. Kegiatan festival ini, telah menarik wisatawan budaya yang berdampak ekonomi bagi masyarakat sekitar Candi Borobudur atau situs lainnya tempat berlangsungnya kegiatan BWCF,” katanya.
Kegiatan ini mendorong pelaku ekonomi kreatif lokal seperti pengrajin, seniman, penerbit, dan kuliner tradisional untuk berpartisipasi dalam ekosistem festival. Hal itu dapat memperluas jaringan kerja sama antara komunitas budaya, lembaga pemerintah, dan sektor swasta.
Dampaknya juga dirasakan langsung oleh komunitas lokal. Masyarakat sekitar Borobudur dan situs lainnya lokasi pelaksanaan BWCF dapat berpartisipasi langsung dalam penyelenggaraan acara entah melalui penyediaan akomodasi, kuliner, transportasi, maupun pementasan seni tradisi.
Pada gilirannya, festival tahunan ini juga dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap situs Borobudur dan situs lainnya lokasi pelaksanaan BWCF sebagai pusat kebudayaan yang hidup, bukan hanya objek wisata atau benda mati.Dampak lainnya, kegiatan BWCF telah meberikan penguatan nilai spiritual dan humanistik. Melalui meditasi, pembacaan teks kuno, atau kegiatan reflektif lain, publik diajak untuk memahami nilai kemanusiaan, kebersahajaan, dan harmoni dengan alam.
Akhirnya, kegiatan BWCF juga mendorong kesadaran akan pentingnya kehidupan yang seimbang antara intelektual, emosional, dan spiritual. (*)
Editor : Fix Sumbar