Pemerintah juga tengah mengkaji pembangunan satu unit jembatan darurat tambahan di kawasan Bungus. Namun rencana tersebut masih terkendala proses pembebasan lahan di sekitar lokasi.
Pengamat transportasi Universitas Bung Hatta, Fidel Miro, menilai persoalan yang terjadi murni berada pada sisi distribusi, bukan ketersediaan BBM.
“Kalau stok tersedia tetapi distribusinya tersendat, masyarakat tetap akan merasakan dampaknya. Kendaraan harus mengantre untuk mendapatkan BBM agar bisa kembali beroperasi. Jadi akar persoalannya ada pada kelancaran distribusi,” ujarnya.
Menurut Fidel, keterlambatan pasokan membuat antrean kendaraan di SPBU semakin panjang hingga meluber ke badan jalan dan memperparah kemacetan.
Senada, Anggota DPR RI Andre Rosiade mengatakan antrean di SPBU bukan disebabkan kelangkaan solar bersubsidi, melainkan terganggunya distribusi selama proses perbaikan Jembatan Bungus.
“Sebetulnya tidak ada kelangkaan solar. Yang terjadi adalah keterlambatan distribusi karena ada permasalahan Jembatan Bungus yang saat ini sedang diperbaiki oleh Balai Jalan Nasional,” kata Andre.Ia menyebut pemerintah pusat melalui BPJN Kementerian Pekerjaan Umum terus mempercepat pengerjaan proyek tersebut. Distribusi BBM ditargetkan kembali normal pada pekan ketiga Agustus setelah jembatan dapat difungsikan.
Andre juga mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan karena stok BBM di Sumbar tetap tersedia.
“Persoalan ini bukan karena solar langka, tetapi distribusinya yang terlambat akibat perbaikan jembatan,” ujarnya. (*)
Editor : Fix Sumbar