Ia menilai banyak orang masih memandang pembangunan Sekolah Rakyat hanya dari sisi bangunan fisik, padahal yang akan lahir adalah sebuah ekosistem ekonomi baru.
"Yang dibangun bukan hanya gedung sekolah. Yang tumbuh adalah aktivitas ekonomi baru. Ada ribuan orang yang tinggal, belajar, bekerja dan berbelanja setiap hari. Di situlah ekonomi mulai bergerak," ujar KJ, sapaan akrabnya diberbagai kalangan pada Jumat, (7/8/2026).
Menurutnya, kebutuhan 3.000 siswa akan menciptakan rantai ekonomi yang panjang. Mulai dari kebutuhan pangan, logistik, transportasi, jasa kebersihan, perdagangan, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.
Di balik rencana besar itu, tersimpan pula semangat gotong royong masyarakat Minangkabau. Lahan seluas 23 hektare yang menjadi lokasi pembangunan merupakan hibah dari keluarga besar Dony Oskaria sebagai dukungan terhadap peningkatan kualitas pendidikan nasional.
Bagi warga Tanjung Alam, Sekolah Rakyat bukan hanya proyek pembangunan. Kehadirannya membawa harapan bahwa anak-anak dari berbagai daerah akan datang menuntut ilmu, sementara masyarakat setempat memperoleh peluang ekonomi yang lebih luas.Di nagari yang selama ini hidup dengan ritme pertanian dan perdagangan tradisional, investasi Rp1,5 triliun itu mulai dipandang sebagai titik awal perubahan. Bukan hanya membangun sekolah, tetapi membangun masa depan baru bagi Tanjung Alam dan Tanah Datar. (*)
Editor : Fix Sumbar


