Dalam situasi tersebut, Ginandjar yang saat itu menjabat Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) memiliki peran penting dalam upaya pemulihan stabilitas ekonomi, terutama penguatan kembali nilai tukar rupiah hingga bergerak menuju kisaran Rp7.000-8.000 per dolar AS.
Bagi Irman, kontribusi tersebut menegaskan posisi Ginandjar sebagai tokoh bangsa yang tidak hanya hadir dalam setiap fase penting pembangunan Indonesia, tetapi juga ikut membentuk arah kebijakan nasional, dari stabilisasi ekonomi, reformasi kelembagaan, hingga penguatan peran daerah.
"Jejak pengabdian beliau bukan sekadar tercatat dalam jabatan, tetapi hidup dalam arah kebijakan dan cara kita memandang pembangunan bangsa yang lebih inklusif hingga pelosok daerah dan berkeadilan," pungkasnya.Peluncuran buku "Pengabdian dari Masa ke Masa: Perjalanan, Pergulatan Hidup dan Pemikiran tersebut turut dihadiri Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonimian Sofyan A. Djalil, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia Rahardi Ramelan, mantan Panglima TNI Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional TB. Ace Hasan Syadzily, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, serta sejumlah tokoh nasional lainnya. (*)
Editor : Fix Sumbar


