Selain meningkatkan kapasitas, hasil uji kinerja menunjukkan proyek ini berhasil menurunkan konsumsi energi dari 39,28 menjadi 35,25 Million British Thermal Unit (MMBTU) per ton amonia. Efisiensi sebesar 4,03 MMBTU per ton amonia tersebut diproyeksikan menghasilkan penghematan biaya produksi hingga USD14,3 juta per tahun atau sekitar Rp228 miliar per tahun.
Peningkatan kapasitas dan efisiensi tersebut, memperkuat ketersediaan amonia sebagai bahan baku utama produksi urea. Proyek ini juga menjadi bagian dari komitmen Pupuk Kaltim terhadap program revitalisasi industri pupuk nasional.
Melalui kesiapan stok yang ditopang produksi yang andal dan Operational Excellence, Pupuk Kaltim terus menjalankan perannya sebagai bagian dari Pupuk Indonesia Grup dalam mendukung agenda pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Ketahanan pangan merupakan agenda jangka panjang yang membutuhkan kontribusi dan kolaborasi berbagai pihak. Pupuk Kaltim akan terus menjaga produktivitas dan keandalan operasional sebagai bagian penting dari peran kami dalam mendukung ketahanan pangan,” kata Rafli.
Kontribusi Pupuk Kaltim terhadap ketahanan pangan juga diperkuat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat dan pendampingan petani, Pupuk Kaltim turut mendorong peningkatan kualitas lahan, produktivitas, mutu hasil panen, pengetahuan petani, serta keberlanjutan area persawahan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai program Community Development di berbagai wilayah. Di Magetan, Jawa Timur, program Pertanian Kompos Terpadu untuk Babadan Inovatif dan Sejahtera (PKT BISA) menerapkan ekonomi sirkular melalui pengolahan limbah pertanian menjadi kompos dan biogas.Sementara itu, di Bulutana, Sulawesi Selatan, program Pertanian Bulutana Berkelanjutan, Sejahtera, dan Mandiri (PKT BERSERI) mengembangkan konsep Kawasan Kampung Sawah Abadi yang memadukan pertanian terpadu ramah lingkungan dengan potensi pariwisata lokal.
Kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya Pupuk Kaltim dalam memperkuat ekosistem pertanian sekaligus mendorong keberlanjutan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
“Kami tidak berhenti pada bagaimana pupuk diproduksi dan disalurkan, tapi juga hadir dalam proses peningkatan kapasitas masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem pertanian,” ucapnya. (*)
Editor : Fix Sumbar