JAKARTA - PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap bisnis dan organisasi melalui Fundamental Business Review. Langkah ini menjadi dasar perusahaan untuk menata kembali arah bisnis di tengah dinamika industri konstruksi dan tantangan persaingan.
Informasi tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi ADHI, @adhikaryaid, yang diunggah pada 22 Oktober 2026. Perusahaan memperkenalkan lima pilar transformasi untuk memperkuat fundamental, meningkatkan efisiensi, dan membangun organisasi yang adaptif.
Kelima pilar tersebut meliputi Financial Strengthening, Operational Excellence, Organization Transformation, Business Streamlining, dan ADHI for ESG. Seluruh pilar diarahkan untuk membangun perusahaan yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Pilar pertama, Financial Strengthening, berfokus pada penyehatan keuangan perusahaan. ADHI mengarahkan langkah ini melalui restrukturisasi pembiayaan dan kewajiban, penguatan likuiditas, serta peningkatan arus kas dan modal kerja.
Perusahaan juga menargetkan pengelolaan liabilitas secara hati-hati, peningkatan profitabilitas, dan penguatan struktur permodalan. Tata kelola serta pengendalian keuangan terintegrasi turut menjadi bagian dari agenda tersebut.
Pilar kedua, Operational Excellence, menitikberatkan peningkatan produktivitas dan efisiensi operasional. ADHI mendorong pengendalian biaya melalui value engineering serta peningkatan kualitas perolehan kontrak baru.Perusahaan juga menekankan keselamatan dan kualitas proyek, sentralisasi pengadaan, serta pengendalian proyek. Optimalisasi proses bisnis berbasis digital dan pengembangan sumber daya manusia turut mendukung agenda ini.
Selanjutnya, Organization Transformation diarahkan untuk membangun organisasi yang lebih tangkas, kompeten, dan adaptif. Upaya tersebut mencakup penyederhanaan struktur organisasi, sentralisasi fungsi strategis, serta penguatan tata kelola dan kompetensi sumber daya manusia.
Pada pilar keempat, Business Streamlining, ADHI menata portofolio bisnis agar semakin berfokus pada bisnis inti konstruksi dan proyek strategis. Perusahaan juga mengarahkan optimalisasi investasi dan aset produktif serta rasionalisasi bisnis nonprioritas.
Dalam materi publikasinya, ADHI menyebut streamlining dan divestasi sebagai bagian dari upaya penyehatan perusahaan. Langkah tersebut berkaitan dengan penataan kepemilikan saham, entitas, maupun aset yang tidak lagi sejalan dengan arah pengembangan jangka panjang.
Editor : Fix Sumbar