Mahasiswa juga diajak memahami perbedaan teknis antara berita media cetak dan televisi. Ia membedah ciri khas naskah berita TV, di antaranya penggunaan huruf kapital untuk memudahkan presenter, durasi singkat (rata-rata 2-3 menit), dan proses pengisian suara (dubbing).
Penyederhanaan naskah yang hanya menggunakan dua tanda baca utama, yaitu koma dan titik sebagai panduan jeda napas saat membaca berita.
Diskusi semakin tajam saat memasuki sesi tanya jawab mengenai isu sensitif. Menjawab pertanyaan Afdal soal kebebasan pers. Defri Mulyadi menegaskan posisi Padang TV sebagai pembela utama. "Jika ada pihak yang menodai kebebasan pers, kami adalah garda terdepan yang akan membela," tegasnya.
Terkait peran media dalam mitigasi bencana di Sumatera Barat, Imung memberikan pernyataan lugas. Ia mengungkapkan kritik terhadap respons pemerintah daerah pascabanjir. "Kami mengkritik keras komunikasi pemerintah yang dinilai kurang empatik terhadap korban. Padang TV akan terus mendorong akuntabilitas pemerintah dalam mitigasi bencana," ungkapnya.
Menutup sesi diskusi, Lusi melontarkan pertanyaan mengenai "rahasia dapur" bagaimana Padang TV mampu menangani 14 program siaran langsung meski hanya didukung 20 karyawan.Imung menjelaskan kunci keberhasilannya adalah sistem multi-tasking. "Di Padang TV, kami dibiasakan menguasai semua lini pekerjaan. Setiap orang harus bisa menjalankan berbagai fungsi divisi. Selain itu, kami didukung koneksi dan peralatan yang mumpuni untuk efisiensi kerja," pungkasnya.
Kunjungan edukatif ini diakhiri dengan sesi foto bersama antara mahasiswa Unes dan tim redaksi Padang TV. Ikut mendampingi kunjungan mahasiswa Dosen Jurnalistik Eriandi. (*)
Editor : Fix Sumbar