"Jika wartawan tidak bijak gunakan AI, karena resiko AI, rentan misinfomasi," ujar Nezar.
Seperti banyak diperlihatkan AI Flog konten palsu tapi digandrungi publik yaitu bagaimana AI bisa membuat background video dan foto apa saja, meski sobjek tidak pernah di background itu.
Menurut pemerhati media sosial Adrian Toaik, soal AI atau apa saja kurenah Medsos, pemerintah harus sigap.
"Jangan karena menghormati kebebasan ekspresi, tapi karena pelintiran, framing palsu, justru berdampak pada harmonis berbangsa dan bernegara. Harusnya Komdigi punya 'penangkal petir' untuk konten merusak nilai nilai cinta tanah air untuk keutuhan bangsa dan negara," ujar Toaik. (*) Editor : Fix Sumbar


