Ombilin dan Kebangkitan Industrialisasi di Ranah Minang

Foto Two Efly

Rabu, 25 Februari 2025, Chief Operating Officer (COO) Danantara yang juga tokoh Minangkabau, Dony Oskaria, mendorong agar PT Bukit Asam Tbk segera mengaktifkan kembali Tambang Batu Bara Ombilin. Ajakan ini bukan sekadar soal tambang. Ini soal masa depan ekonomi Sumatera Barat.

Kalau Ombilin hidup lagi, yang bergerak bukan cuma alat berat. Sejarah sudah membuktikan, tambang ini pernah jadi penggerak utama ekonomi di Ranah Minang.

Sejak abad ke-19, Ombilin bukan hanya tempat menggali batu bara. Ia jadi awal tumbuhnya industri di Sumatera Barat. Dari tambang inilah lahir pelabuhan Emmahaven—yang sekarang kita kenal sebagai Pelabuhan Teluk Bayur. Pelabuhan ini dulu dipakai untuk mengirim batu bara ke Eropa.

Tak hanya itu, jalur kereta api dari pedalaman ke pantai barat Sumatera juga dibangun untuk mengangkut hasil tambang. Artinya, sejak dulu Ombilin sudah terhubung dengan pelabuhan, kereta api, dan industri lain. Ia menjadi pusat pergerakan ekonomi.

Baca juga: Pasar Ghoib

Dari situ tumbuh industri turunan. Salah satunya adalah perusahaan semen yang kini kita kenal sebagai PT Semen Padang. Kehadiran tambang, transportasi, dan industri pengolahan waktu itu membentuk satu ekosistem ekonomi yang saling mendukung.

Tulisan ini tidak ingin membahas sejarah panjangnya. Intinya sederhana: Ombilin dulu adalah jantung industrialisasi Sumatera Barat. Di sana ada energi, ada jalur angkut, ada industri. Semua saling terhubung.

Reaktivasi di Tengah Lesunya Investasi

Beberapa puluh tahun terakhir, investasi di Sumatera Barat terasa lambat. Ada proyek besar seperti panas bumi di Solok Selatan, tapi sering terkendala masalah lahan dan penolakan sosial.

Ini menunjukkan bahwa tantangan kita bukan hanya soal sumber daya alam. Kita punya potensi, tapi belum tentu punya kesiapan sosial dan tata kelola yang kuat.

Karena itu, jika Ombilin diaktifkan kembali, ini harus jadi momen perubahan sikap. Dunia usaha dan masyarakat perlu duduk bersama. Kalau terus saling curiga, investasi sulit berkembang. Pameo, "awak lalok urang haniang, awak bakarajo urang eboh" mustilah dibuang jauh.

Banner Ultah Danantara
Bagikan

Opini lainnya
Terkini