Lebih dari itu, keteladanan Budi Syukur menjadi cermin bahwa sebuah kontribusi tidak ditentukan oleh sorotan atau sanjungan, tetapi oleh keberlanjutan manfaat yang dirasakan orang lain.
Ia membuktikan bahwa bekerja dalam diam justru menghadirkan gema paling panjang. Bahwa integritas, ketulusan, dan kesabaran adalah fondasi utama dari kepemimpinan yang sesungguhnya.
Dalam setiap organisasi yang pernah ia pimpin, ia meninggalkan sistem yang tetap hidup. Dalam setiap atlet yang pernah ia dampingi, ia menitipkan keyakinan bahwa mimpi bisa dicapai dengan disiplin dan komitmen.
Dalam setiap rapat, perdebatan, dan keputusan besar, ia menambahkan kesejukan, kejernihan, dan arah yang benar. Ia membangun banyak hal: kepercayaan, persaudaraan, dan harapan.
Warisan seperti itu tidak lapuk dimakan waktu. Ia melewati masa jabatan, melewati generasi, dan bahkan mampu menumbuhkan inspirasi baru bagi mereka yang belum pernah bertemu dengannya sekalipun.
Dan ketika orang-orang mengenang perjalanan panjang olahraga Sumatera Barat, nama S. Budi Syukur akan tetap hadir, bukan karena posisinya, tetapi karena ketulusan yang ia tinggalkan.Sebab sebagian tokoh tercatat dalam arsip, namun hanya sedikit yang tercatat dalam hati. Dan Budi Syukur berada dalam kelompok kecil itu, mereka yang bekerja untuk memberi, bukan untuk dikenang, namun justru dikenang karena apa yang mereka beri.
Pengabdian itu mengalir, menembus batas waktu, memberi teladan bagi generasi kini dan mendatang, bahwa memberi manfaat adalah bentuk tertinggi dari hidup yang bermakna.
Dan sehari setelah Hari Milad S Budi Syukur, tepatnya di puncak Hari Pers Nasional, S Budi Syukur dianugerah penghargaan tertinggi oleh SIWO PWI Pusat, selamat bang Budi Syukur. (*)
Editor : Fix Sumbar
