Lampu-lampu kuning temaram menyala satu per satu, memantul di lantai stasiun yang basah oleh gerimis sore.
Di luar pagar stasiun, delman masih hilir mudik membawa penumpang. Pedagang koran menjajakan berita sore, sementara aroma kacang rebus dan kopi tubruk menguar dari warung kecil di sudut peron.
Itulah suasama Gambir waktu itu, kini sangat mudah memperoleh, terutama dari bernagai literasi kisah tengang Gambir Tempo Dulu.
Stasiun Gambir tidak sekadar tempat naik kereta, tapi gerbang harapan bagi mereka yang hendak mengadu nasib ke kota lain.
Orang-orang datang dengan koper kaleng dan tas anyaman. Ada ibu yang menangis melepas anaknya merantau, ada tentara muda berpamitan sebelum bertugas, ada pula pegawai negeri yang pulang kampung setahun sekali saat Lebaran. Tangis dan tawa bercampur tanpa perlu banyak kata.Dari peron Gambir, Jakarta tempo dulu terlihat lebih pelan, tak ada gedung tinggi. Moda pesaing kereta api tqk semeluber kini.
Jakarta pun belum ada gedung menjulang tinggi, hanya siluet Monas yang berdiri anggun dah sahdu di kejauhan, dikelilingi pepohonan rindang dan jalanan yang belum sesak kendaraan.
Kereta berangkat perlahan, roda besinya beradu dengan rel seperti mengulang pesan lama, yaitu di setiap perjalanan selalu meninggalkan cerita, dan Gambir adalah kenangan yang gak pernah benar-benar pergi.(tim)
Editor : Fix Sumbar


