Pelajaran ketiga adalah pentingnya menguasai narasi politik.
Dalam banyak situasi, pemerintahan Starmer terlihat lebih banyak bereaksi terhadap isu yang diangkat lawan politik dibandingkan membentuk agenda politiknya sendiri. Akibatnya, pihak oposisi berhasil menempatkan diri sebagai suara kemarahan rakyat, sementara pemerintah terlihat terus-menerus berada dalam posisi bertahan.
Dalam politik modern, fakta saja tidak cukup.
Fakta membutuhkan narasi.
Rakyat tidak mengingat angka. Rakyat mengingat cerita yang memberikan makna terhadap angka tersebut.
Sebuah pemerintahan bisa saja mencatat pertumbuhan ekonomi yang baik, peningkatan investasi, atau keberhasilan berbagai program pembangunan. Namun jika keberhasilan tersebut gagal diterjemahkan ke dalam bahasa yang dipahami rakyat, maka manfaat politiknya akan sangat terbatas.Pelajaran keempat adalah pentingnya persatuan dan disiplin organisasi.
Salah satu faktor yang mempercepat kemerosotan Starmer adalah konflik internal yang semakin terbuka di dalam Partai Buruh. Perbedaan pandangan yang tidak dikelola dengan baik akhirnya menciptakan persepsi bahwa pemerintah kehilangan kendali atas timnya sendiri.
Rakyat memahami bahwa perbedaan pandangan pasti ada dalam setiap organisasi politik. Namun rakyat tidak menyukai perpecahan yang dipertontonkan secara terbuka.
Sering kali sebuah pemerintahan tidak jatuh karena serangan lawan politik. Sebaliknya, ia melemah karena kehilangan kesatuan di dalam dirinya sendiri.
Editor : Fix Sumbar