Budaya sebagai Tali Pengikat
Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Dra. Susmelawati Rosya, S.H., M.H., menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar mengincar piagam rekor, tapi juga meneguhkan peran Bhayangkari dalam pelestarian budaya lokal.
Lebih dari Sekadar Kegiatan Kuliner
Randang massal ini hanyalah satu bagian dari peta besar transformasi sosial yang digagas Irjen Gatot di tubuh Polda Sumbar. Dalam masa kepemimpinannya, ia menginisiasi berbagai program berbasis nilai religius dan pendekatan sosial yang inklusif, antara lain:
- Gerakan Subuh Berjamaah di seluruh jajaran Polres
- Program Khatam Al-Qur’an Polri se-Sumbar
- Zero Tawuran dan Zero Balap Liar
- Pembentukan Komunitas “Sahabat Kapolda” di setiap daerah
Program-program ini terbukti efektif dalam memperkuat kedekatan polisi dengan masyarakat, serta menumbuhkan citra Polri sebagai pelindung yang hadir dengan wajah ramah dan membumi.
Marandang: Ritual, Identitas, dan Perekat Sosial
Randang bukan sekadar makanan. Ia adalah lambang kesabaran, keharmonisan, dan proses panjang yang mencerminkan filosofi hidup orang Minang. Memasaknya butuh ketelatenan, seperti halnya membangun kepercayaan antara institusi dan rakyat.
Melalui marandang massal ini, Kapolda Sumbar mengajak masyarakat untuk menafsirkan ulang nilai-nilai tersebut dalam konteks kehidupan modern: gotong royong, persatuan, dan kebanggaan atas warisan budaya
Polda Sumbar Cetak Sejarah, Randang Menyatukan Bangsa
Tanggal 22 Juni 2025 akan tercatat dalam sejarah, bukan hanya sebagai peringatan Hari Bhayangkara, tetapi sebagai hari di mana randang menyatukan ribuan orang dari berbagai latar belakang dalam semangat yang sama: cinta akan budaya, kebersamaan, dan kebanggaan terhadap Sumatera Barat.
Ketika tungku-tungku menyala dan asap randang perlahan menyelimuti pagi Padang, di sanalah tergurat harapan bahwa kebudayaan bisa menjadi jalan untuk mempersatukan, memuliakan, dan membangun Indonesia yang lebih manusiawi. (***) Editor : Redaksi


