Jika Putin mendorong solidaritas politik terhadap Iran sebagai bagian dari poros perlawanan terhadap dominasi Barat, maka BoP ala Trump justru menciptakan jalur institusional baru yang mengikat negara-negara dalam skema stabilisasi global dengan pusat gravitasi di Washington.
Indonesia pun berada dalam ruang abu-abu: tidak menjadi satelit, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya lepas dari orbit kekuatan besar.
Ketegangan itu kemudian menjelma menjadi pro dan kontra di dalam negeri.
Sebagian melihat langkah ini sebagai seni diplomasi klasik “bebas aktif” yang diadaptasi ke dunia multipolar. Namun sebagian lain melihatnya sebagai risiko baru: Indonesia masuk terlalu dalam ke permainan besar tanpa jaminan kontrol penuh atas arah akhirnya.
Di tengah semua itu, Prabowo seperti benar-benar sedang berselancar di atas ombak besar yang datang dari dua arah berlawanan: satu membawa ideologi keseimbangan Timur, satu membawa institusionalisasi pengaruh Barat.
Dan dalam dunia seperti ini, kesalahan kecil dalam membaca arus bisa berarti kehilangan keseimbangan.
Namun sejarah juga mencatat: negara besar tidak pernah bertahan dengan cara menghindari ombak—tetapi dengan belajar membaca, kapan harus maju, kapan harus menahan, dan kapan harus membiarkan arus lewat tanpa menghancurkan haluan.Dan mungkin, ujian terbesar bukanlah memilih antara Vladimir Putin atau Donald Trump.
Melainkan tetap menjaga Indonesia sebagai dirinya sendiri—di tengah laut yang tidak lagi mengenal ketenangan.
Biodata Penulis
Editor : Fix Sumbar
