Rubuh di Tengah Kukuhnya Marwah Minangkabau

Rubuh di Tengah Kukuhnya Marwah Minangkabau
Rubuh di Tengah Kukuhnya Marwah Minangkabau

Oleh: Gilang Gardhiolla Gusvero, Wartawan

Pagi di nagari selalu datang dengan cara yang sama. Suara azan dari surau menyapu udara, ayam berkokok dari halaman rumah, dan jalan kampung mulai hidup ketika terdengar langkah sang pejuang berangkat mencari nafkah. Dari luar, semuanya tampak seperti biasa. Tenang. Tertib. Seolah Minangkabau masih berdiri kukuh di atas adat dan agama yang selama ini dibanggakan.

Namun, di balik ketenangan itu, ada luka yang tak terlihat dari jalan raya.

Luka itu bersembunyi di dalam rumah.

Rumah yang semestinya menjadi tempat seorang anak pulang, berlindung, dan merasa aman, justru berubah menjadi ruang yang paling menakutkan. Dua kasus ayah kandung yang menyetubuhi anaknya sendiri di Kecamatan Situjuah, Kabupaten Limapuluh Kota, bukan bagai kabar yang datang lalu pergi saja. Ia adalah alarm keras yang menampar kesadaran sosial kita.

Kita terlalu sering mengilaukan citra kampung sebagai ruang yang religius dan beradat, tetapi terlambat mendengar jerit yang tumbuh di balik pintu rumah sendiri.

Fakta yang diungkap kepolisian sungguh mencabik nurani. Seorang ayah diduga berulang kali menyetubuhi anak gadisnya yang masih duduk di bangku SMA hingga korban diketahui hamil. Dalam kasus lain, seorang anak perempuan memendam trauma sejak usia 10 tahun sebelum akhirnya berani berbicara kepada mamaknya. Ketika kasus itu terbuka, pelaku menghilang dan ditemukan meninggal dunia.

Yang paling menyedihkan, kejahatan semacam ini hampir selalu tumbuh dalam diam.

Diam karena takut.

Diam karena malu.

Editor : Fix Sumbar
Banner JPS- Insanul Kamil
Bagikan

Berita Terkait
Terkini