Oleh: Two Efly (Wartawan Ekonomi)
Kamis, 9 April 2026 kemarin saya mengikuti perjalanan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade ke Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) BEM KM Universitas Andalas. Kehadirannya memenuhi undangan untuk berdialog langsung dengan pengurus BEM dan ratusan mahasiswa di Sumatera Barat.
Suasana diskusi berlangsung hangat, meski sesekali memanas. Tiga isu besar mengemuka: pertama, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan beragam pernak pernik dinamika lapangannya. Kedua, keterlibatan Indonesia dalam Board on Peace (BOP) yang dipandang tak berpihak pada Palestina dan Ketiga Koperasi Merah Putih yang dianggap program tak urgensi dalam kondisi ekonomi di daerah sedang sulit.
Sebagai mantan aktivis era 1990-an, Andre tampil tenang dan terukur. Andre mengaku, kehadirannya dalam forum terbuka bak menjemput nostalgia dimasa lalu. Tahun 2000-2001 selaku Presiden BEM Univ Tri Sakti, Andre turun ke jalan dan bahkan sempat menduduki serta menginap di gedung DPR RI bersama ribuan demonstran lainnya.
Pengalaman yang lahir dari “rahim reformasi” itulah yang membuatnya begitu menikmati forum diskusi dengan mahasiswa. Tampak Andre mampu mengendalikan panggung diskusi. Pertanyaan-pertanyaan tajam dari mahasiswa dijawab secara runtut dan sistematis. Tidak sekadar menjawab, ia juga mencoba membangun sudut pandang baru—menjelaskan apa itu MBG, bagaimana dampaknya terhadap perbaikan gizi anak-anak, serta efek ekonominya.
15 : 85 Persen dan Wajah Lain MBGLebih dari 180 menit dialog berlangsung. Tema yang menjadi idola dan bahasan hangat adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernak dan pernik, dinamika MBG dilapangan memgemuka dalam bentuk pertanyaan. Baik olrh mahasiswa maupun dosen sebagai pengampu mata kuliah.
Satu persatu data dibuka. Satu persatu pula peristiwa keracunan disejumlah wilayah akibat dari MBG ini dipaparkan. Ada yang menyarankan agar MBG ini dihentikan dan sebaliknya ada juga yang memintak MBG dilanjutkan dengan sejumlah catatan. Intinya, dialog berjalan menarik dan kritis.
Dalam dialog lebih dari 180 menit tersebut. Ada beberapa hal penting dan menarik yang tak banyak orang tau. Salah satunya skema anggaran MBG. Dari setiap Rp15.000 per porsi, sekitar 85 persen (Rp 10.000) mengalir langsung ke pelaku UMKM, penerima manfaat, dan kebutuhan operasional usaha. Hanya 15 persen yang menjadi ruang bagi investor untuk mengembalikan modalnya.
Artinya, MBG tidaklah dirancang untuk menguntungkan oligarki atau korporasi besar. Justru manfaat terbesar berada di tangan masyarakat bawah dan pelaku ekonomi kecil. Secara bisnis angka 15 persen dan besarnya biaya investasi untuk satu dapur MBG tidaklah begitu menggiurkan dan profitable.
Editor : Fix Sumbar