Strategi ALKO Sumatra Kopi: Blockchain hingga Ekspor Udara, Petani Didorong Naik Kelas

Teks Foto : Ngopi bareng media di Pangeran Beach Hotel, Kamis (30/4/2026). FARDIANTO
Teks Foto : Ngopi bareng media di Pangeran Beach Hotel, Kamis (30/4/2026). FARDIANTO

Selain itu, perusahaan menargetkan kemandirian pembiayaan melalui koperasi, tanpa bergantung pada modal eksternal. Model ini dinilai mampu memperkuat posisi petani dalam rantai nilai kopi.

Secara historis, kopi Sumatera Barat telah dikenal dunia sejak awal abad ke-20. Catatan menunjukkan, pada 1901 kopi dari wilayah ini telah dikenal hingga Eropa, termasuk Norwegia.

Saat ini, produksi kopi yang terhimpun dalam koperasi mencapai sekitar 13.000 ton per tahun dari 41.000 anggota. Namun, serapan oleh ALKO di Sumatera Barat masih di bawah 100 ton per tahun.

Peluang Besar di Pasar Global

Dengan permintaan kopi dunia yang terus meningkat, ALKO melihat peluang besar untuk memperluas pasar ekspor. Strategi ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kesejahteraan petani melalui sistem yang lebih transparan dan berkelanjutan.

“Teknologi dan ekosistem sebenarnya sudah ada. Tantangannya sekarang bagaimana petani memahami nilai produknya dan mengambil peran lebih kuat di pasar,” ucapnya. (*)

Editor : Fix Sumbar
Banner Komintau - MenteriBanner KI sumbar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini