Hal ini, katanya, sejalan dengan Surat Ar-Rum ayat 41: telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia, agar Allah menimpakan sebagian akibat perbuatan mereka supaya mereka kembali ke jalan yang benar. Musibah, menurut Ustad Afdholi, pada hakikatnya bermakna ujian, tetapi maknanya berbeda tergantung kepada siapa ia jatuh.
“Kepada orang saleh, musibah bermakna ujian. Kepada manusia yang setengah baik dan setengah buruk, musibah adalah peringatan. Tapi kalau musibah menjadi persekot azab, itu ditujukan kepada manusia yang tak mengindahkan peringatan, baik dari pemerintah maupun ahli kitab,” paparnya.
Ia menambahkan, musibah adalah perkara dunia, sedangkan azab adalah perkara akhirat. Mengenai mengapa orang saleh justru kerap ditimpa musibah, Ustad Afdholi menjelaskan bahwa golongan ini tidak dimanjakan Allah, melainkan terus didera ujian.
Para nabi pun bertubi-tubi diuji, meski ketika mereka berdoa, pintu langit senantiasa terbuka untuk mengabulkannya. “Seperti kata orang bijak, pelaut hebat lahir dari gelombang dan badai dahsyat. Demikian pula manusia yang berbrevet saleh,” ujarnya.
Ia juga mengutip Surat Al-Mulk ayat 2, bahwa Allah menjadikan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara manusia yang paling baik amalnya. “Hidup adalah ujian. Senang dan susah sama-sama ujian. Manusia mengaku baik, tetapi Allah belum mengakuinya sebelum ia lulus dari ujian,” katanya.
Ustad Afdholi menyebut tiga amalan untuk menghadapi dan membendung musibah: memakmurkan masjid, mencintai sesama, dan rajin beristigfar.
Amalan ini, katanya, bersumber dari hadis qudsi, yaitu firman Allah yang tidak termaktub dalam Alquran namun disampaikan melalui lisan Nabi Muhammad SAW, dan menempati kedudukan tinggi di antara hadis.Saat mendapat nikmat maupun ujian, hendaknya seorang hamba mengucapkan Innalillahi sebagai sandaran vertikal kepada Allah, sebab semua berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya.
Pada bagian lain, Ustad Afdholi mengingatkan bahwa Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah SAW telah mengatur seluruh kompleksitas kehidupan hingga hari akhir, bahkan menggambarkan apa yang terjadi sesudahnya.
Merusak alam, bahkan menyakiti hewan, menurutnya bisa menghalangi seorang muslim masuk surga, apalagi menyakiti sesama manusia. Surga adalah nikmat, namun ada yang lebih agung dari surga, yaitu berjumpa dengan Sang Khalik.
Editor : Fix Sumbar


