“Konsep ini juga memungkinkan hadirnya night safari yang dapat menjadi daya tarik wisata malam bagi wisatawan,” jelasnya.
Selain itu, TP2DEWI juga mengusulkan pembangunan kebun buah terpadu di Kabupaten Padang Pariaman. Kawasan tersebut diharapkan menjadi destinasi wisata rekreasi, edukasi, penelitian, sekaligus pusat konservasi buah-buahan lokal yang mulai langka di Sumbar.
Kampung Minang hingga Planetarium Bonjol
Gagasan lainnya adalah pembangunan Kampung Minang yang menampilkan rumah adat khas dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Kawasan tersebut dapat berfungsi sebagai pusat wisata budaya, edukasi, akomodasi wisatawan, hingga pusat pembelajaran silek tradisional Minangkabau.
Zuhrizul juga mendorong pemugaran menyeluruh Candi Padang Roco di Kabupaten Dharmasraya yang memiliki nilai sejarah penting sebagai salah satu jejak awal peradaban Minangkabau sebelum masa pemerintahan Adityawarman di Pagaruyung.
Menurutnya, jika ditata dan dipugar secara optimal, kawasan tersebut berpotensi menjadi destinasi edukasi sejarah yang wajib dikunjungi pelajar dari berbagai daerah.
Selain itu, pembangunan Planetarium Bonjol di Kabupaten Pasaman juga dinilai layak diwujudkan. Keberadaan garis khatulistiwa di kawasan tersebut dapat menjadi daya tarik wisata edukasi berbasis sains dan literasi.Warisan untuk Anak Cucu
Zuhrizul berharap kepala daerah di masa mendatang tidak hanya fokus pada program jangka pendek, tetapi juga meninggalkan warisan pembangunan yang memiliki nilai sejarah dan manfaat jangka panjang.
“Kita berharap akan lahir daya tarik wisata baru yang dikenang generasi Minang dan dunia. Kepala daerah datang dan pergi, tetapi karya besarnya harus tetap hidup menjadi cerita bagi anak cucu kita nantinya,” tutup Zuhrizul. (*)
Editor : Fix Sumbar