Oleh Dr. Ramadhan Pohan, MIS
(Wartawan, Manajer Timnas Senior PSSI 2012, Mantan Pimpinan Komisi I DPR-RI)
Kebencian tidak pernah diredakan oleh kebencian; hanya dengan tidak membenci, kebencian diredakan.
— Siddhartha Gautama, tradisi filsafat India, Dhammapada
INDONESIA menjuarai FIFA ASEAN Cup perdana setelah menaklukkan Thailand melalui adu penalti 4–2, di Gelora Bung Karno, Senin malam, 5 Oktober 2026. Sungguh penantian panjang, 35 tahun sejak emas sepak bola senior SEA Games 1991 raih emas. Hasil juara telah mengubah kegelisahan panjang menjadi kegembiraan nasional. Masif. Trending topik lah.
Indonesia perlu berterima kasih kepada pelatih kepala John Herdman. Para bintang Timnas seperti Kevin Diks, Elkan Baggott, Dean James, Shayne Pattynama, Ole Romeny, Egy Maulana Vikri, Rizki Ridho, Emil Audero dkk memperlihatkan kebersamaan yang menghasilkan trofi. El Capitano Diks menyebut keberhasilan itu sebagai kebanggaan terhadap tim dan fondasi perjalanan mereka berikutnya.Saya teringat ekspresi Herdman ketika Audero gagah perkasa menggagalkan penalti penentu Thailand. Dua kepalan tangannya mengeras, urat lengannya menonjol, dan teriakan “yaaa” terlepas sekuatnya. Lega, bangga, dan beban yang sekian lama dipikulnya dilepaskannya dalam satu gerakan spontan. Saya melihat gerakan bawah sadar seorang pelatih yang akhirnya dapat bernapas lapang. Mengapa begitu emosional? Karena bagi dirinya, kemenangan itu menyentuh manusiawi nya dan amanah, asa sebuah bangsa yang dipercayakan kepadanya.
Dua bulan sebelumnya, suasananya jauh berbeda. Dalam ASEAN Hyundai Cup 2026, turnamen AFF yang lazim disebut Piala AFF, Indonesia kalah 0–3 dari Vietnam pada 3 Agustus, lalu tersingkir setelah ditahan Singapura 1–1 pada 7 Agustus. Ini berbeda dari FIFA ASEAN Cup pada Oktober. Saat timnas babak-belur itu, di tepi bawah tribune stadion terdengar bentakan keras suporter “Shame on you, John!” (malulah, John!); di media sosial muncul tuntutan “John out” (John mundur) dan tagar pemecatan. Ada kritik tentang miskinnya alternatif taktik, serangan tidak padu, dan pertahanan kacau. Kritik teknis itu layak-layak saja. Namun, membandingkannya dengan Shin Tae-yong untuk merendahkan martabat pribadi Herdman jelas tidak memperbaiki apapun Timnas. Kecewa boleh. Menghina jangan. Apalagi saat event Agustus itu tak ada Pelupessy, Diks, Baggott, James, Audero, Paes, Verdonk, Hubner, dan Vickery. Mereka tidak dilepas klub karena bukan event resmi FIFA.
Herdman lahir di Consett, Inggris, pada 19 Juli 1975; kini berusia 51 tahun dan berkewarganegaraan Britania Raya, berasal dari Inggris. Ia pernah mengajar ilmu olahraga di Northumbria University, Newcastle, Inggris, dan bekerja dalam pembinaan pemain muda Sunderland. Sertifikat kepelatihan FA diperolehnya pada 1995, disusul lisensi UEFA B pada 1999 dan diploma UEFA A.
Editor : Fix Sumbar