Ia menangani tim putri Selandia Baru pada 2006–2011, termasuk di Piala Dunia 2007 dan 2011. Bersama putri Kanada, ia meraih perunggu Olimpiade 2012 serta 2016, kemudian Herdman membawa timnas senior putra Kanada ke Piala Dunia 2022 setelah penantian 36 tahun. Prestasi moncer tersebut tentu tidak menjamin setiap pertandingan akan dimenanginya. Tetapi menyebut Herdman tidak mempunyai kemampuan jelas mengabaikan rekam jejak sama sekali. Tidak fair lah.
Karakter kepelatihan Herdman bertumpu pada kepercayaan dan kemampuan menyesuaikan permainan. Kepada Coaches’ Voice (Suara Pelatih), media digital sekaligus platform pendidikan kepelatihan yang berbasis di London, Inggris, Herdman menjelaskan penggunaan beberapa formasi, wawancara individual, serta kelompok pemimpin pemain untuk membangun kesatuan tujuan. Sistem tiga bek sering jadi ciri strateginya, tetapi keluwesan lebih penting daripada angka formasi. FIFA mencatat kesaksian pemain Kanada, misal Kamal Miller, tentang kerendahan hati dan ketelitian persiapan Herdman sebagai pelatih. Positif.
Seusai kalah dari Vietnam, 3 Agustus, Herdman mengatakan: “Secara taktis, Vietnam lebih baik, dan sebagai pelatih saya harus belajar dengan cepat.” Ia menerima tanggung jawab dan meminta maaf kepada suporter. Inilah jawaban yang relevan dan sportif: mengakui kekurangan, lalu bekerja memperbaikinya. Pelatih yang hobby olahraga berlari di GBK ini pernah berucap warga dan fans timnas yang mendekatinya dan meminta Herdman menghadirkan trofi buat Timnas. Aspirasi, tekanan, masukan, asa yang dilontarkan warga sungguh didengarkan dan meresapi Herdman.
Coach Herdman mempunyai sasaran jelas. Pada September, ia menjelaskan ambisi yang ditawarkan Erick Thohir: lolos ke Piala Dunia 2030, mencapai delapan besar Piala Asia 2027, dan memenangkan trofi. Menjelang FIFA ASEAN Cup, Ketua Umum PSSI itu secara khusus menargetkan gelar juara. Satu sasaran kini terpenuhi; dua lainnya masih menuntut pembuktian. Sesudah final kemarin, ia menyebut pencapaian trofi FIFA itu sangat istimewa dan bermakna besar bagi pemain.
Dari catatan penulis, Herdman meneruskan sejarah panjang pelatih asing Indonesia. Toni Pogacnik dari Yugoslavia sukses membawa Garuda ke Olimpiade 1956 dan perunggu Asian Games 1958. Ivan Kolev dari Bulgaria mengantar Indonesia ke final ASEAN 2002; Peter Withe dari Inggris pada 2004; Alfred Riedl dari Austria pada 2010 dan 2016. Mereka tidak menjuarai turnamen itu, tetapi pencapaiannya tetap berarti. Shin Tae-yong dari Korea Selatan membawa tim senior untuk pertama kalinya ke babak 16 besar Piala Asia edisi 2023, dimainkan pada 2024. Luis Milla dari Spanyol meraih perunggu SEA Games 2017 bersama tim U-22, tanpa trofi senior.
Ada pula catatan kegagalan: Wim Rijsbergen dari Belanda pada kualifikasi Piala Dunia 2014, Simon McMenemy dari Skotlandia pada awal kualifikasi Piala Dunia 2022, dan Patrick Kluivert dari Belanda pada tahap penentu menuju Piala Dunia 2026. Ketiganya tidak mempersembahkan gelar senior selama menangani Indonesia. Namun, tanpa trofi tidak otomatis berarti tanpa jasa. Kita tetap mengukur proporsional target, mutu permainan, dan kemajuan yang ditinggalkan. Dengan ukuran itulah apresiasi terhadap Herdman mempunyai dasar, tanpa harus mengecilkan pelatih sebelum-sebelumnya. Cocok, bukan?
Ujian berikutnya segera datang. Indonesia dijadwalkan menghadapi Yordania di Amman pada 13 November 2026, dalam jeda internasional FIFA, menjelang Piala Asia Arab Saudi, 7 Januari–5 Februari 2027. Undian sudah menempatkan Indonesia di Grup F bersama Jepang, Qatar, dan Thailand. Jepang mempunyai tradisi kuat di Asia; Qatar juara pada dua edisi terakhir. Pertandingan tandang melawan Yordania berguna untuk menguji organisasi permainan, pilihan pemain, dan ketahanan saat dukungan stadion lebih banyak menjadi milik lawan.Kesenjangan peringkat juga perlu dibaca dengan waktu yang jelas. Halaman resmi FIFA masih mencatat update terakhir pada 20 Juli 2026: Indonesia peringkat ke-118, Jepang ke-17, Qatar ke-59, dan Thailand ke-94. Laporan terakhir media disebutkan, pada 7 Oktober Indonesia naik ke-117. Piala Asia ini memang bukan babak seleksi langsung menuju Piala Dunia 2030. Pengalaman di putaran final Asia menjadi bekal untuk perjalanan berikutnya, persiapan ke pentas dunia.
PSSI perlu menjaga ukuran keberhasilan yang dapat dikritisi. Sebelum turnamen, Ketum Erick Thohir meminta Herdman menyiapkan alternatif strategi ketika pemain utama cedera. Prinsip itu relevan untuk Yordania dan Piala Asia: apakah serangan mempunyai variasi, pertahanan terorganisasi, pergantian pemain tepat, dan kesalahan berkurang? Saya tidak mendewakan skor semata. Jika seluruh ikhtiar sudah maksimal, kita menerima hasil dengan lapang; takdir berada pada Tuhan, bukan? Tetapi jika permainan lamban, miskin kreativitas, dan kehilangan arah, kritiklah keputusan teknisnya secara tegas. Tak masalah itu.
Lihat Argentina ketika kalah 1–2 dari Arab Saudi pada pembukaan Piala Dunia 2022. Lionel Scaloni tidak langsung disingkirkan; tim memperbaiki diri dan akhirnya juara. Kekalahan itu tetap mengandung persoalan taktis, sehingga penguasaan bola bukan satu-satunya ukuran atau alasan. Liverpool pun kalah 0–1 dari Real Madrid pada final Liga Champions 2022 meskipun unggul 24 tembakan berbanding empat. Jangan abaikan, saat itu Courtois membuat sembilan penyelamatan. Pelatih Juergen Klopp tetap bekerja setelahnya, tidak dipecat. Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa federasi dan klub dapat mempertahankan pelatih sambil menuntut perbaikan. Kesabaran mempunyai ukuran; satu hasil buruk tidak harus menjadi vonis keseluruhan. Proporsional saja, itu kata paling pas, dan termasuk fans Indonesia, perlu berefleksi itu. .
Editor : Fix Sumbar