"Membuat gambar juga gampang. Gambarnya dilihat bagus, tetapi kembali lagi eksekusi. Eksekusi itu yang menentukan kita berkualitas atau tidak," tuturnya.
Ia menyebut sejumlah proyek yang dikerjakan perusahaan-perusahaan BUMN telah menunjukkan kemampuan menghasilkan pekerjaan berkualitas. Pengalaman pembangunan hotel di Bali hingga perbaikan sejumlah bandara menjadi contoh yang diharapkan dapat diterapkan dalam pembangunan Stadion Haji Agus Salim.
Dony menegaskan, dirinya tidak ingin stadion yang dibangun di kampung halamannya justru memiliki kualitas yang mengecewakan.
"Apalagi di kampung saya. Saya enggak mau nanti Stadion Agus Salim ini dibangun, tetapi kualitasnya jelek. Saya mau kualitasnya ini menjadi stadion terbaik di Indonesia," katanya.
Untuk memastikan hal tersebut, Dony menyatakan akan terus memantau proses pembangunan. Ia ingin setiap tahapan pengerjaan dilakukan dengan memperhatikan standar konstruksi, kualitas material, serta ketelitian dalam pelaksanaan.
Stadion Bersejarah yang Ditargetkan Jadi Ikon Sumbar
Dony juga mengungkapkan Stadion Haji Agus Salim memiliki nilai sejarah tersendiri baginya dan masyarakat Sumatera Barat.Ia mengingat stadion tersebut mulai digunakan pada 1983 untuk kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Sejak saat itu, stadion telah melewati perjalanan panjang hingga akhirnya memasuki tahap pembangunan kembali.
Menurutnya, perjalanan sekitar 43 tahun tersebut menjadi momentum untuk membangun stadion yang jauh lebih baik, tidak hanya dari sisi fasilitas, tetapi juga kualitas dan daya tahannya.
Dony berharap stadion baru ini kelak menjadi salah satu ikon Sumatera Barat sekaligus kebanggaan masyarakat.
Editor : Fix Sumbar