Nilam Sumbar Kualitas Terbaik, Prof Deddi: Ayo Gerakan Tak Ada Semak Kecuali Nilam

Prof Deddi (kiri) dam Dodi (kanan) sebut kualitas minyak nilam sumbar terbaik se Indonesia tapi tak mampu penuhi permintaan pasa Eropah dan Amerika Serikat (dri)
Prof Deddi (kiri) dam Dodi (kanan) sebut kualitas minyak nilam sumbar terbaik se Indonesia tapi tak mampu penuhi permintaan pasa Eropah dan Amerika Serikat (dri)

FIXSUMBAR, - Tanaman Nilam hasilkan Minyak Nilam (Atsiri). Hasil penyulingan petani Sumatra Barat diakui pasar Eropah dan Amerika, berkualitas terbaik se Indonesia.Tapi apa?, Meski minyak nilam ini ada dolar nya, ternyata kini tak sewangi therapi lagi.

Produksi minyak nilam Sumbar ternyata tidak mampu memenuhi permintaaan pasar Eropah dan Amerika Serikat."Tidak mampu memenuhi permintaan buyers Eropah dan Amerika Serikat,"ujar Eksportir Minyak Atsiri Dodi dari PT Van Aroma.

Bahkan kata Dodi digabung minyak nilam se Sumatera ini hanya bisa memenuhi 3 persen permintaan pasa nasional."Ya kita dan pengusaha minyak nilam se Sumatra hanya mampu penuhi pasar nasional 3 persen, 93 persen minyak nilam dipasok dari Sulawesi, selebihnya dari Pulau Jawa,"ujar Dodi.

Padahal minyak nilam Sumbar yang kualitasnya diakui dunia terbaik pernah sukses menjadi pemasok pasar Indonesia.Menurut Pakar UNAND Prof Deddi Prima Putra, sudah saatnya petani dan pebisnis serta pemerintah intropeksi diri untuk mengembalikan nama besar minyak nilam Sumbar.

"Masih belum terlambat, asal mau, Sumbar harus kembali menjadi sentral minyak nilam nasional, caranya mobilisasi lewat gerakan, Tak Ada Semak Kecuali Nilam, sekali lagi harus kolaboratif tidak bisa mengandalkan petani saja"ujar Prof Deddi.Dari kalkulasi Prof Dedi, ternyata lebih menggiurkan 1 hektar tanan nilam ketimbang 1 hektar tanaman padi.

"Estimasi saya, potensi 1 hektar tanaman nilam setahun, bisa mencapai Rp 1,8 miliar dengan pasar Malaysia yang telah melewati quality mutu untuk pasar ekspor minyak atsiri. Jika dikalkulasikan dengan 1 hektar padi, hitungan saya hanya Rp 225 juta, jelas nilam lebih menggiurkan,"ujar Prof Deddi.Menurut Prof Deddi, Sumatra produksi Minyak Atsiri sempat mencapai 170 ton dan kini terendah 30 ton setahun.

"Produksi rendah kini karena patogen, juga tidak masif menanam nilam, padahal penghasil nilam terbesar di Sumbar Pasaman, Minyak Atsiri original yaitu diolah secara tradisionil. 50 mili Atsiri lewat jual online ke Malaysia, harganya Rp 700 ribu,"ujar Prof Deddi.(dri) 

Editor : Fix Sumbar
Banner Komintau - MenteriBanner KI sumbarBanner Nevi - HajiBanner Rahmat Hidayat - Hari BuruhBanner Rahmat Saleh - Pers
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini