Tidak hanya fokus pada layanan daring, Perumda Tirta Anai juga memperkuat layanan lapangan. Tim teknis aktif turun ke wilayah-wilayah pelanggan untuk memeriksa kebocoran pipa, memperbaiki sambungan air, dan memastikan kualitas air sesuai standar kesehatan.
Aktivitas tersebut rutin dibagikan melalui media sosial resmi sebagai bentuk keterbukaan dan akuntabilitas publik.
Selain itu, perusahaan juga gencar mengampanyekan edukasi publik terkait penggunaan air bersih dan konservasi sumber daya air melalui program bertema “Gunakan Air Secukupnya”, “Cegah Kebocoran di Rumah Sendiri”, dan “Lindungi Sumber Air Kita”.
Pendekatan ini menegaskan bahwa pelayanan publik bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga gerakan sosial membangun kesadaran kolektif menjaga lingkungan.
Kepemimpinan Dr. Aznil Mardin turut menghadirkan perubahan budaya kerja internal. Ia menanamkan nilai “mental melayani, bukan dilayani” kepada seluruh jajaran. Melalui pelatihan dan pembinaan berkelanjutan, setiap pegawai diarahkan menjadi agen perubahan yang profesional, solutif, dan kolaboratif.
“Pelayanan publik yang baik lahir dari sumber daya manusia yang berintegritas dan memiliki empati tinggi terhadap masyarakat,” katanya.
Transformasi Tirta Anai juga melibatkan kerja sama lintas sektor dengan pemerintah daerah, lembaga kesehatan, sekolah, dan komunitas masyarakat. Kolaborasi ini memperluas jangkauan edukasi air bersih sekaligus memperkuat peran sosial perusahaan di tingkat lokal.Aznil menegaskan, Kualitas pelayanan bukan ditentukan oleh seberapa besar infrastruktur yang dimiliki, tetapi oleh seberapa besar kepercayaan masyarakat yang bisa kita bangun.
Meski baru beberapa bulan berjalan, perubahan di Tirta Anai sudah mulai terasa. Respons pelanggan meningkat, penanganan aduan lebih cepat, dan sistem informasi makin transparan.
Melalui berbagai inovasi tersebut, Tirta Anai membuktikan bahwa perusahaan daerah mampu bertransformasi menjadi lembaga pelayanan publik modern yang humanis dan berintegritas. (*)
Editor : Fix Sumbar