Orchid Forest Cikole, Rumah Keindahan Ada di Sini, Bak Kupu-kupu yang Lupa Terbang

Orchid Forest Cikole, Rumah Keindahan Ada di Sini, Bak Kupu-kupu yang Lupa Terbang
Orchid Forest Cikole, Rumah Keindahan Ada di Sini, Bak Kupu-kupu yang Lupa Terbang

Di sebuah dinding hijau yang ditumbuhi pakis dan daun-daun merah hati, sebuah papan berdiri: “Orchid Forest, Cikole.” Hurufnya putih, anggun, dengan lukisan setangkai anggrek selop di atasnya. Kelopak hijau membuka seperti tangan yang menengadah, menyimpan ungu di tengahnya. Di kakinya, anggrek-anggrek berbaris dalam pot yang dibalut tali rami. Yang merah jambu menyala paling berani, berdesakan dengan yang putih bersih dan yang kuning malu-malu. Phalaenopsis, kebanyakan, bunga yang seperti kupu-kupu yang lupa terbang. Ia betah di sini, menemami siapa saja yang akan berfoto. Jepret. Bawalah pulang. Jangan bawah jantungnya sebab besok akan ada yang datang lagi.

Lalu pada jalan setapak yang menurun. Ada jembatan melengkung dari besi hitam. Ramping, seperti punggung kucing yang sedang meregang, menggantung di atas jalan setapak. “Wood Bridge.” Di bawah pegangannya, lampu kuning menyala memanjang, hangat, membelah remang yang mulai turun. Persis di samping saya, seorang perempuan berjilbab merah muda mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Ia memotret jembatan itu, memotret cahaya, memotret sore yang sebentar lagi habis.

Lalu ada, sederet rangka besi hitam berbentuk segitiga. dDisusun berlapis-lapis hingga membentuk terowongan yang mengecil ke kejauhan. Di sela-selanya tergantung bola-bola lumut dan jauh di dalam, cahaya ungu samar berpendar.

Sepasang muda berhenti di mulutnya. Lelaki berkaus hijau mengangkat ponsel, perempuan berdaster biru muda berdiri menunggu, tersenyum tipis ke arah lensa.

Aduhai, di bawah atap kaca, dunia berubah lembut. Lantainya rumput sintetis berwarna hijau muda. Di atasnya berserak bean bag, jingga, tosca, ungu muda. Bak permen yang ditebar tangan kanak-kanak. Dindingnya hidup: tanaman rambat menjalari rangka besi. Sebagian menggantung dari langit-langit. Menjuntai-juntai. Layu manis seperti rambut yang dibiarkan terurai. Ini ruang yang dibuat untuk meredam dingin Cikole sejenak.

Tak sudah-sudah. Dua lagi: Pohon-pohon pakis raksasa berdiri anggun. Entah berapa usianya. Daunnya merekah bagai kipas yang terbuka penuh, menyaring cahaya menjadi keemasan yang lembut. Di antaranya, pot-pot anyaman bambu berbentuk guci tinggi berbaris rapi. Bangku-bangku kayu menyatu dengan tanah, dikelilingi semak yang dipangkas.

Ini jembatan gamang dengan pengawas. Papan-papan kayu berwarna jingga membentang lurus ke depan, sedikit melengkung di tengah seperti senyum kekasih. Di kiri-kanan, jaring tali keputihan berdiri sebagai pagar, mengikuti irama jembatan yang bergoyang pelan. Di seberang, sebuah pos kecil menunggu—P3. Berjalan di antara langit dan tanah, orang diingatkan: kadang yang menggetarkan bukan ketinggian, melainkan percaya bahwa tali-tali tipis itu akan menahan kita sampai seberang. Dan, ia menahan. Selalu menahan, seperti janji. Bisa jadi di sini, di rimba wisaya ini, sejuta janji sudah diikat, sedikit yang dilepas.

Inilah Orchid Forest Cikole, yang membuat “tak jemu mata memandang.” saya ditemani Sumarsono dan sahabatnya Martin Haris penjaga Hutan Anggrek ini. Bisa jadi di sini ada semua, 157 jenis anggrek.

Waktu seolah lebih cepat di sini. Tak lama benar, lampu bertali-temali sudah menyala, juga di tiang-tiang rendah, seolah petang menyerahkan diri pada malam. Tapi, belum. Pengunjung masih sangat ramai: 2.000 orang, tadi malah 3.000 orang. Sejak pagi maksudnya.

Hutan Lintas Indah

Editor : Fix Sumbar
Banner JPS - Bola
Bagikan

Berita Terkait
Terkini