Lembah Anai Terus Menangis, Alam Sumbar Sedang Menagih Ulah Manusia

Lembah Anai Terus Menangis, Alam Sumbar Sedang Menagih Ulah Manusia
Lembah Anai Terus Menangis, Alam Sumbar Sedang Menagih Ulah Manusia

Puluhan orang juga telah kehilangan nyawa akibat aktivitas tambang ilegal sepanjang tahun 2012 hingga 2026. Sebagian meninggal tertimbun longsor, sebagian lainnya menjadi korban kecelakaan di lokasi tambang. Namun, mungkin masih banyak korban yang belum terlihat, yaitu mereka yang perlahan diracuni oleh merkuri tanpa pernah menyadarinya.

Saudaraku, bukankah Allah SWT telah mengingatkan kita agar tidak membuat kerusakan di muka bumi?

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 11–12, Allah mengingatkan bahwa ada manusia yang menganggap dirinya melakukan perbaikan, padahal sesungguhnya mereka membuat kerusakan. Dalam QS. Al-A'raf ayat 56, Allah melarang manusia membuat kerusakan setelah bumi diperbaiki. QS. Al-Qashash ayat 77 menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Sementara dalam QS. Ar-Rum ayat 41 disebutkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena ulah tangan manusia agar mereka merasakan akibat perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar.

Menyampaikan peringatan tentang pentingnya menjaga bumi bukan sekadar menyampaikan pendapat. Bagi seorang mukmin, mengingatkan sesama agar tidak merusak ciptaan Allah adalah bagian dari ikhtiar dan ibadah.

Untuk itu, harapan besar disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia. Sudah saatnya Sumatera Barat dijadikan prototipe nasional dalam pemberantasan pertambangan emas ilegal dan pembalakan liar. Operasi besar-besaran yang menyentuh para pelaku, pemodal, jaringan distribusi, hingga penadah hasil tambang diperlukan agar kerusakan ini benar-benar berhenti, bukan sekadar berpindah tempat.

Masyarakat Minangkabau mengenal pepatah alam takambang jadi guru. Hari ini, guru itu sedang memberi pelajaran yang sangat mahal. Longsor yang terus terjadi di Lembah Anai, sungai yang semakin keruh, hutan yang semakin gundul, semuanya seperti sedang berbicara kepada kita.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mendengar suara alam itu.

Tetapi, apakah kita masih mau mendengarkannya sebelum semuanya benar-benar terlambat. (*)

Editor : Fix Sumbar
Banner JPS - BolaBanner Rahmat Saleh - Gema
Bagikan

Berita Terkait
Terkini