Ormas Premanisme, Relawan, Ulama, dan Santri dalam Pusaran Demokrasi Elektoral dan Politik Transaksional

Ormas Premanisme, Relawan, Ulama, dan Santri dalam Pusaran Demokrasi Elektoral dan Politik Transaksional
Ormas Premanisme, Relawan, Ulama, dan Santri dalam Pusaran Demokrasi Elektoral dan Politik Transaksional

Ketika Kekuatan Sosial Ditarik ke dalam Perebutan dan Pemeliharaan Kekuasaan

Esei Resonansi : Irdam Imran

Depok, 29 Agustus 2026

Ada sesuatu yang perlu direnungkan dalam perjalanan demokrasi Indonesia hari ini.

Demokrasi yang seharusnya menjadi jalan untuk menghadirkan kekuasaan yang berdaulat di tangan rakyat, perlahan dapat berubah menjadi arena transaksi kepentingan. Pemilu menjadi titik kulminasi perebutan kekuasaan, sementara setelah kekuasaan diperoleh, muncul berbagai kelompok yang merasa memiliki saham politik atas kemenangan tersebut.

Di sinilah kita melihat persimpangan antara ormas, relawan, pengusaha, elite politik, birokrasi, ulama dan santri.

Mereka semua merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Mereka memiliki hak untuk berpolitik, berserikat, menyampaikan pendapat dan mengawasi pemerintah.

Tetapi demokrasi menjadi bermasalah ketika kekuatan sosial tersebut tidak lagi berdiri sebagai kekuatan masyarakat sipil, melainkan berubah menjadi instrumen kekuasaan.

Dari Relawan Menjadi “Pemilik Saham” Kekuasaan

Dalam demokrasi elektoral, calon pemimpin membutuhkan suara rakyat.

Editor : Fix Sumbar
Banner JMSI 2026
Bagikan

Berita Terkait
Terkini