Apabila dicermati secara bersamaan, keempat indikator tersebut membentuk pola yang saling berkaitan.
Pertumbuhan ekonomi berada di bawah rata-rata regional dan nasional. PDRB per kapita masih tertinggal dibanding provinsi pembanding. Investasi baru berkembang lambat. Sementara kapasitas fiskal daerah menghadapi tekanan yang semakin besar.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan Sumbar saat ini bukan lagi sekadar persoalan perlambatan ekonomi tahunan. Yang mulai terlihat adalah gejala ketertinggalan struktural yang berlangsung secara konsisten dalam berbagai indikator utama pembangunan.
Data BPS seharusnya tidak hanya dibaca sebagai laporan statistik rutin. Data tersebut merupakan alarm yang memberi sinyal bahwa Sumbar membutuhkan strategi pembangunan yang lebih kompetitif, lebih agresif dalam menarik investasi, serta lebih fokus menciptakan sektor-sektor bernilai tambah tinggi.Sebab dalam persaingan antarwilayah yang semakin ketat, tumbuh saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah tumbuh lebih cepat, lebih produktif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata. (Opini)
"Seluruh isi tulisan merupakan tanggung jawab penulis"
Editor : Fix Sumbar