Sumbar Layak Kembangkan Wisata Kebun Bunga, Belajar dari Sukses Kota Batu

Teks Foto : Keindahan hamparan kebun bunga di Kota Batu, Jawa Timur. IST
Teks Foto : Keindahan hamparan kebun bunga di Kota Batu, Jawa Timur. IST

Oleh : Endang Pribadi, Wartawan

MALANG - Keindahan hamparan kebun bunga di Kota Batu, Jawa Timur, yang belakangan ramai menjadi lokasi swafoto memberikan pelajaran penting bagi Sumatera Barat (Sumbar). Destinasi wisata tidak selalu harus lahir dari pembangunan kawasan baru. Lahan pertanian yang sudah produktif pun dapat berkembang menjadi magnet wisata apabila dikemas secara kreatif dan dikelola bersama masyarakat.

Kota Batu memperlihatkan bagaimana aktivitas pertanian bunga yang telah berlangsung puluhan tahun perlahan mendapatkan nilai tambah dari sektor pariwisata. Kecamatan Batu, misalnya, dikenal sebagai sentra tanaman hias dan bunga. Budidaya yang semula menjadi sumber penghidupan warga kemudian berkembang menjadi bagian dari daya tarik wisata, terutama ketika keindahan hamparan bunga bertemu dengan tren media sosial dan kebutuhan wisatawan terhadap lokasi swafoto.

Di kawasan tersebut, bunga bukan sekadar ornamen untuk mempercantik destinasi. Tanaman bunga merupakan bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat. Lebih dari 80 persen warga Sidomulyo disebut menggantungkan kehidupan dari produksi bunga dan tanaman hias yang telah berkembang sejak dekade 1980-an. Pemerintah, desa dan masyarakat kemudian mengembangkan potensi tersebut melalui konsep desa wisata, agrowisata, edukasi pertanian, kuliner dan area swafoto.

Pola seperti itu sesungguhnya sangat mungkin diterapkan di Sumbar. Provinsi ini memiliki modal alam yang kuat, terutama kawasan dataran tinggi dengan udara sejuk, tanah yang mendukung hortikultura, panorama pegunungan serta tradisi pertanian masyarakat yang telah berlangsung lama.

Bahkan, Sumbar telah memiliki contoh awal pengembangan florikultura yang dapat menjadi fondasi. Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sumbar pada 2026 mengembangkan produksi benih krisan di Kebun Percobaan Sukarami, Kabupaten Solok. Sebanyak 1.500 tanaman induk dari 13 varietas krisan dikembangkan untuk mendukung ketersediaan benih sekaligus pengembangan usaha florikultura.

Kota Solok juga telah memiliki Agrowisata Batu Patah Payo di Kelurahan Tanah Garam. Di kawasan tersebut, bunga krisan dikembangkan melalui sejumlah greenhouse dengan pola tanam bertahap. Produksi bunga yang berlangsung secara berkelanjutan menjadi modal penting untuk mengembangkan kawasan pertanian sekaligus menjadi ruang wisata.

Potensi itu semakin menarik jika melihat kawasan seperti Padang Panjang, Koto Baru dan Alahan Panjang. Ketiganya memiliki karakter dataran tinggi yang dapat menjadi lingkungan ideal untuk pengembangan wisata bunga dengan konsep yang berbeda-beda.

Padang Panjang, misalnya, memiliki citra sebagai kota berhawa sejuk dengan lanskap perbukitan. Jika budidaya bunga dikembangkan secara terpadu, bukan tidak mungkin muncul kawasan taman bunga yang menawarkan pengalaman berjalan di antara hamparan bunga, belajar mengenai tanaman, membeli bunga dan bibit, sekaligus mengabadikan foto dengan latar perbukitan.

Editor : Fix Sumbar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini