Perhutani, Kisah Panjang Rimba Jawa Sejak Dua Abad Silam

Foto Khairul Jasmi
Ilustrasi Perhutani, Kisah Panjang Rimba Jawa Sejak Dua Abad Silam

Ia juga memperluas penanaman jati ke Kabupaten-kabupaten lain di Bagelen Selatan, seperti yang dapat disimpulkan dari lokasi penanaman, pasokan kayu di masa depan untuk pemukiman yang lebih besar (Poerworedjo, Koetoardjo, dan Keboemen) tampaknya telah dipertimbangkan. Misalnya, pada tahun 1880, di atas Koetoardjo (kompleks Goenoeng Krikil), perkebunan jati dan Albizzia (?) yang gagal milik Administrasi Pedalaman diambil alih, direklamasi dan diperluas dengan djati.”

Disebutkan pula, “pada tahun tanam 1888/89, termasuk kediaman Banjoemas, kontrak-kontrak berikut disepakati untuk penanaman jati: 88,5 hektar dengan harga ƒ 15 per hektar, 230 hektar dengan harga ƒ 12,50 per hektar, 181 hektar dengan harga ƒ 10 per hektar, 138 hektar dengan harga ƒ 5 per hektar…

Terutama ketika De Graaf menekankan spesies lokal dan asli, pasokan bahan tanam menjadi lebih mudah. Kecuali untuk Sindoro, dalam budidaya tahun 1888 dan 1889, semua yang dapat diperoleh penduduk digunakan. Benih yang cukup dapat dikumpulkan untuk budidaya djati di dataran rendah dari hutan sekitarnya, sebagian besar berasal dari periode sistem budidaya. Setidaknya pada awalnya (1838-42) hingga tanggal yang tidak dapat ditentukan lagi, benih untuk ini kemungkinan besar dipasok oleh Semarang dan Rembang. Pada tahun 1881, rimbawan G. S. de Graaf membawa benih dari Margasari”

Jika tidak ada catatan lain, saya berkeyakinan penanaman jati di Jawa oleh Belanda telah dimulai sejak 1800 atau setelahnya tapi sebelum 1840.Sejak itu, Jawa adalah jati dan pohon-pohon menjulang tinggi, tegak lurus teratur. Jati dan pinus, sudah lama berkawan di sini.

Perhutani sekarang

Di jantung Semarang, kantor Perhutani berdiri gagah, segagah hutan Pulau Jawa. Walau gagah, akibat berbagai faktor. Perhutani memegang keempat sudut rimba Pulau Jawa dan Madura seluas, 1,38 juta ha, susut satu juta Ha. Ini, sesuai SK Menteri Kehutanan Nomor SK. 148 tahun 2025. Ini, setara dengan 42% luas kawasan hutan Jawa. Di dalamnya ada hutan lindung seluas 192,5 Ha, kawasan perlindungan 216.290 Ha, kawasan penggunaan lain, 32.688 Ha, kawasan produksi 939.156 Ha.

Perhutani menanam 72 juta bibit setiap tahun, tentu juga menebang, sesuai regulasi. Tak asal tebang. Perhutani tak perludiajari berbaris, apalagi menebang dan menanam pohon. Jika saja luas hutan yang digembalakan Perhutani di Jawa masih di atas 2 juta Ha, maka kekhawatiran akan bencana alam bisa berkurang. Namu, hutan yang tipis sudah semakin tipis, apa hendak dikata.

Perhutani sekarang adalah sebuah perusahaan besar, bisa jadi tertua di Asia. Soal usia cerita lain, pengalaman kisah penting.Maka, tak heran Jepang belajar ke Perhutani bagaimana mengelola hutan. Maka, jika kita melihat tegakkan pohon pinus dan jati di kawasan Perhutani, akan tercengang.

Pohon-pohon itu tegak lurus,tinggi, di bawahnya bersih. Elok untuk kijang berlari-lari. Bahkan saking eloknya dijadikan wisata hutan. Ratusan titik. Bisa jadi, kursi yang Anda duduki dari jati Pulau Jawa. Tapi, yang pasti kursi rebahan di kapal pesir itu, juga tangan-tangannya memang dari jati dari hutan rimba Pulau Jawa. (*)

Banner JPS- Insanul KamilBanner Nindy - JPS
Bagikan

Opini lainnya
Terkini