Ketika Presiden Prabowo Subianto Berselancar di Antara Dua Karang: Putin, Trump, dan Iran

Ketika Presiden Prabowo Subianto Berselancar di Antara Dua Karang: Putin, Trump, dan Iran
Ketika Presiden Prabowo Subianto Berselancar di Antara Dua Karang: Putin, Trump, dan Iran

Ada metafora yang semakin tajam dalam membaca arah politik luar negeri Indonesia hari ini: seorang nakhoda besar sedang berselancar di antara dua karang geopolitik dunia—Vladimir Putin dan arus pengaruh Donald Trump—sementara di tengahnya berdiri Presiden Prabowo Subianto yang harus menjaga agar kapal Indonesia tidak pecah dihantam gelombang kepentingan global.

Namun ombak itu kini tidak lagi sederhana.

Di satu sisi, dalam dinamika konflik Timur Tengah, muncul tekanan geopolitik yang lebih keras. Dalam sejumlah pertemuan diplomatik, Vladimir Putin dipersepsikan mendorong agar negara-negara mitra strategis Global South, termasuk Indonesia, lebih tegas membaca ulang peta kekuatan—termasuk memberi simpati politik terhadap posisi Iran dalam eskalasi ketegangan dengan Barat dan sekutunya di kawasan.

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar isu solidaritas, tetapi persoalan posisi: apakah tetap netral, atau mulai condong dalam orbit baru multipolar yang sedang dibangun Rusia.

Di saat yang sama, di sisi lain samudera, Indonesia sudah terlanjur berada dalam orbit baru kerja sama strategis yang terkait dengan Donald Trump melalui skema Board of Peace (BoP)—sebuah platform geopolitik yang bukan hanya simbol perdamaian, tetapi juga struktur pengaruh baru Amerika di kawasan konflik global.

Namun di dalam negeri, posisi ini tidak berdiri tanpa gesekan.

Keikutsertaan Indonesia dalam BoP dipandang sebagian pihak sebagai langkah strategis untuk menjaga akses diplomasi global, tetapi di sisi lain memunculkan perdebatan keras: apakah ini bentuk “keterikatan baru” Indonesia pada arsitektur kebijakan luar negeri Amerika?

Bahkan Presiden Prabowo sendiri pernah menegaskan bahwa Indonesia tidak terikat pada kewajiban finansial BoP dan tetap memposisikan diri sebagai aktor independen yang berorientasi pada perdamaian Palestina, bukan kepentingan blok tertentu.

Namun dalam realitas politik, simbol sering lebih kuat dari penjelasan.

Di titik inilah posisi Prabowo menjadi sangat kompleks: ia berada di tengah arus Putin yang mendorong logika ketahanan blok dan solidaritas geopolitik Global South, dan Trump yang membangun arsitektur institusional pengaruh Barat melalui BoP.

Editor : Fix Sumbar
Banner JPS- Insanul KamilBanner Nindy - JPSBanner Rahmat Saleh - Milad Berdaya
Bagikan

Berita Terkait
Terkini