Saya tidak malu mengakui bahwa peristiwa PRRI pada awalnya memang menyisakan trauma bagi kami masyarakat Minangkabau. Dan Alhamdulillah makin lama memang makin menipis dan mulai terlupakan.
Paska PRRI terjadi gelombang merantau yang cukup masif dan banyak orang tua yang memberi nama anaknya dengan nama ke Jawa jawaan dan keBarat Baratan, mungkin khawatir kalau pakai nama bercorak Minangkabau akan menjadi handicap tersendiri dalam pergaulan tingkat Nasional. Sebut saja sebagai contoh ada orang tua di Minangkabau yang memberi nama anaknya James Hellyward , Irwan Prayitno, Doni Monardo, Andrinof. Dan ternyata cukup ampuh, karena nama nama yang sebut tersebut menjadi tokoh dan dikenal di tingkat nasional semuanya.
Saya sendiri tanpa saya sadari juga merasakan trauma tersebut, buktinya ketika ada yang mengatakan puluhan tahun lalu bahwa putra Indonesia asal Minangkabau tidak akan pernah dipercaya jadi bintang 4 di Ketentaraan, langsung lekat dalam ingatan saya dan terus melekat sampai saat ini.
Dan ketika bapak Prabowo mengumumkan pengangkatan bapak LetjenTNI (Purn) Djamari Chaniago sebagai Menko Polkam kemudian diikuti dengan memberikan kenaikan pangkat kehormatan menjadi Jendral bintang 4 kepada beliau, saya menjadi orang yang paling lega dan bahagia, walau saya tidak kenal secara pribadi dengan beliau.
Tapi setidaknya penganugerahan kenaikan pangkat Jendral bintang 4 kepada bapak Djamari Chaniago bisa membantah dan memupus persepsi dan trauma , bahwa putra Minangkabau karena peristiwa PRRI tak mungkin jadi Jendral bintang 4 di lingkungan TNI.
Dan tidak itu saja, ketika dulu di masa masa sekolah terjadi penggantian buku sejarah dengan buku terbitan terbaru, maka saya merasa deg degan kira kira apa yang tertulis tentang PRRI dalam buku sejarah baru tersebut.Maka Halaman pertama yang saya baca dari buku sejarah baru tersebut adalah halaman yang menceritakan tentang peristiwa PRRI.
Dan ternyata dari beberapa kali penggantian buku sejarah semasa saya sekolah (semasa orde baru), isi nya biasa biasa saja dan tidak terkesan memojokkan atau melebih lebihkan.
Terus terang saya khawatir kalau peristiwa PRRI disamakan dengan RMS, Pemberontakan Kahar Muzakar ataupun dengan PKI.
Karena PRRI jelas berbeda dengan pemberontakan pemberontakan tersebut. PRRI ataupun PERMESTA adalah koreksi daerah terhadap pemerintah pusat. Dan
