Brasil Lebih Diunggulkan, tetapi Jepang Selalu Punya Cara Membuat Kejutan

Foto Adrian Tuswandi

Piala Dunia selalu menghadirkan cerita-cerita besar, dan salah satu yang paling menarik di babak 32 besar edisi 2026 adalah pertemuan Brasil melawan Jepang. Pertandingan yang berlangsung Selasa (30/6/2026) pukul 00.00 WIB di Stadion Houston, Amerika Serikat, bukan hanya mempertemukan dua negara dengan tradisi sepak bola berbeda, tetapi juga dua filosofi permainan yang saling bertolak belakang.

Brasil datang sebagai salah satu favorit juara. Lima kali mengangkat trofi Piala Dunia membuat Selecao selalu menjadi tim yang ditakuti. Mereka lolos sebagai juara Grup C setelah bangkit dari hasil imbang melawan Maroko dengan dua kemenangan meyakinkan atas Haiti dan Skotlandia.

Di bawah arahan Carlo Ancelotti, Brasil tampil lebih seimbang. Mereka tidak hanya mengandalkan kemampuan individu, tetapi juga memiliki organisasi permainan yang lebih rapi. Ketajaman Vinicius Junior menjadi senjata utama setelah selalu mencetak gol di fase grup, sementara kondisi Neymar yang semakin membaik memberi tambahan kualitas di lini depan. Meski demikian, potensi absennya Raphinha akibat cedera hamstring bisa sedikit mengurangi variasi serangan dari sisi kanan.

Namun, jika ada satu tim yang pantas disebut sebagai ancaman serius bagi Brasil, maka jawabannya adalah Jepang.

Saya pernah berkesempatan mengunjungi Jepang. Dari pengalaman itu, saya melihat sendiri bagaimana budaya disiplin, kerja keras, dan rasa tanggung jawab tertanam kuat dalam kehidupan masyarakatnya. Nilai-nilai itu juga tercermin di lapangan hijau. Tim nasional Jepang selalu bermain dengan organisasi yang baik, disiplin menjaga posisi, dan tidak mudah kehilangan konsentrasi.

Karena itu, saya tidak pernah menganggap Jepang sebagai tim pelengkap di Piala Dunia.

Samurai Biru telah membuktikan perkembangan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Mereka mampu mengalahkan Jerman dan Spanyol pada Piala Dunia 2022. Kini, mereka kembali menunjukkan konsistensi dengan lolos ke fase gugur tanpa kekalahan sebagai runner-up Grup F melalui hasil imbang melawan Belanda dan Swedia serta kemenangan atas Tunisia.

Pelatih Hajime Moriyasu juga telah belajar dari pengalaman. Kegagalan melalui adu penalti pada Piala Dunia sebelumnya menjadi pelajaran penting yang kini dipersiapkan secara lebih matang. Bahkan, Jepang memiliki modal psikologis setelah pernah mengalahkan Brasil 3-2 dalam laga persahabatan pada Oktober 2025.

Memang, Jepang kehilangan Takefusa Kubo yang masih dibekap cedera. Kehilangan pemain kreatif tentu menjadi kerugian. Namun, kekuatan utama Jepang bukan bertumpu pada satu individu, melainkan kolektivitas. Mereka mampu menutup kekurangan dengan disiplin dan kerja sama yang sangat baik.

Inilah yang membuat laga ini menarik.

Banner JPS - Bola
Bagikan

Opini lainnya
Terkini