Sahroni dan Nafa: Korban Oligarki Partai dan Cermin Rapuhnya Demokrasi Internal

Foto Irdam Imran

Anies Baswedan dalam banyak pidatonya menekankan pentingnya membangun politik yang merawat harapan rakyat, bukan sekadar politik transaksional. Baginya, politik perubahan hanya bisa berjalan bila partai berani memutus mata rantai oligarki.

Semua pandangan tokoh ini pada akhirnya bermuara pada satu hal: demokrasi yang sehat hanya bisa lahir bila partai politik bebas dari cengkeraman oligarki dan one man show.

Refleksi dan Peringatan

Penonaktifan Sahroni dan Nafa adalah sinyal bahaya bagi demokrasi kita. Partai yang mengklaim dirinya sebagai partai perubahan ternyata tidak lebih dari panggung oligarki. Demokrasi internal yang rapuh hanya akan melahirkan keputusan sepihak, mengorbankan kader, dan pada akhirnya mengkhianati kepercayaan rakyat.

Rakyat tidak boleh lagi mudah terpesona oleh jargon perubahan. Publik harus lebih kritis: apakah partai benar-benar menjalankan nilai demokrasi atau sekadar mengulang pola lama, di mana elit mengendalikan semua keputusan tanpa kontrol dari bawah?

Sebagai bangsa, kita berutang pada pemikiran Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Natsir, Amien Rais, hingga generasi sekarang seperti Anies Baswedan—yang semuanya menekankan pentingnya politik bermoral, demokratis, dan berpihak pada rakyat. Bila partai politik gagal mewujudkan itu, maka rakyatlah yang harus mengingatkan, mengoreksi, bahkan meninggalkan partai yang terjebak dalam lingkaran oligarki.

PWI SumbarHJK Padang 357 - JPSHJK Padang 357 - JPS 2HJK Padang 357 - FWP DPRD SumbarHJK Padang 357 - KI Sumbar
Bagikan

Opini lainnya
Terkini