JAKARTA - Di tengah rangkaian Pidato Kenegaraan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan satu pesan yang menonjol di hadapan anggota MPR, DPR, dan DPD RI. Di balik lonjakan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN), terdapat kerja besar transformasi yang dijalankan Danantara Indonesia bersama seluruh jajaran BUMN.
Secara khusus, Presiden Prabowo memberikan penghargaan kepada pimpinan Danantara dan seluruh timnya yang dinilai berhasil mendorong efisiensi, memperbaiki tata kelola, serta meningkatkan keuntungan perusahaan-perusahaan negara.
"Saya memberikan penghargaan khusus bagi pimpinan Danantara dan seluruh timnya, seluruh jaringannya," ujar Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Apresiasi tersebut bukan tanpa alasan. Dalam laporannya, Prabowo mengungkapkan transformasi BUMN yang berlangsung sepanjang 2025 hingga 2026 telah menghasilkan efisiensi keuangan negara lebih dari Rp50 triliun. Penghematan itu berasal dari perampingan struktur perusahaan, pengurangan biaya operasional, hingga penyederhanaan organisasi.
Presiden bahkan menyebut langkah tersebut sebagai salah satu restrukturisasi korporasi terbesar di dunia. Dari total 1.074 BUMN yang pernah ada, pemerintah telah menutup 290 perusahaan. Hingga akhir 2026, jumlah BUMN ditargetkan tinggal sekitar 300 perusahaan yang benar-benar sehat dan produktif.
Di balik proses besar itu, nama Dony Oskaria menjadi salah satu figur yang mendapat sorotan. Sebagai pemimpin Danantara Indonesia sekaligus arsitek transformasi BUMN, Dony dinilai berhasil mengubah arah perusahaan-perusahaan negara dari sekadar bertahan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional.Hasilnya mulai terlihat. Sejumlah BUMN mencatat lonjakan laba yang signifikan sepanjang semester pertama 2026. PT Semen Indonesia membukukan kenaikan laba bersih 408,9 persen. PT Pupuk Indonesia meningkat 252,8 persen. Pertamina tumbuh 86 persen, Pegadaian 84,4 persen, Pelindo 60,4 persen, dan PTPN naik 54,4 persen.
Salah satu contoh yang disampaikan Presiden adalah kebangkitan PT Timah. Setelah pemerintah menertibkan sekitar 1.000 tambang ilegal di Bangka Belitung pada akhir 2025, kinerja perusahaan itu melonjak tajam. Dalam enam bulan pertama 2026, laba bersih PT Timah meningkat 804,7 persen. Valuasi perusahaan pun naik hingga 280 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Transformasi juga terjadi di sektor penerbangan. Garuda Indonesia yang sebelumnya menghadapi tantangan berat berhasil mengaktifkan kembali 20 pesawat yang sempat tidak beroperasi. Hingga Juni 2026, total 104 armada kembali melayani penerbangan.
Tak hanya meningkatkan keuntungan perusahaan, reformasi BUMN juga berdampak langsung pada penerimaan negara. Laba BUMN yang pada 2024 tercatat Rp186 triliun meningkat menjadi Rp326 triliun pada 2025. Dividen yang disetorkan kepada negara melonjak dari Rp85,5 triliun menjadi Rp142,3 triliun.
Editor : Fix Sumbar


