“Kami harus mengangkat boks makanan sambil nyebrang genangan lumpur. Tapi begitu lihat warga menyantapnya, rasa capek hilang,” kata A.
Sejumlah aparatur kelurahan menyatakan makanan dari jaringan dapur GAPEMBI datang pada saat warga benar-benar kehabisan bahan pangan. Banyak warga menyebut makanan itu sebagai “napas penyambung hari” sambil menunggu bantuan pemerintah mengalir merata.
Pada Kamis (27/11), Wali Kota Padang Fadly Amran menginstruksikan agar dapur SPPG dialihkan menjadi dapur umum darurat. Sekolah sedang diliburkan, sehingga fasilitas dapur dimaksimalkan untuk kebutuhan warga.
“Makanan yang biasanya disiapkan untuk siswa kini kami fokuskan untuk pengungsi,” kata Fadly.
Instruksi itu direspons cepat oleh GAPEMBI Sumbar. Sebanyak 46 dapur SPPG dikerahkan penuh, ditambah seluruh dapur anggota GAPEMBI. Produksi makanan dilakukan sejak pagi dengan standar nutrisi yang sama seperti sajian sekolah.
“Yang kami pikirkan sederhana: warga butuh makan, dan kami punya kemampuan menyediakan makanan bergizi dalam jumlah besar,” ujar Agung.
Di tengah sistem yang bekerja masif tersebut, cerita-cerita seperti A menegaskan bahwa kerja kemanusiaan selalu bertumpu pada manusia bukan hanya organisasi.A mengaku akan tetap berada di dapur umum beberapa hari ke depan sebelum kembali menangani rumahnya. “Rumah bisa diperbaiki nanti. Tapi orang-orang ini butuh makan hari ini,” katanya.
Bagi GAPEMBI, kisah A adalah wajah dari komitmen organisasi: memastikan kebutuhan darurat warga terpenuhi, sambil menjaga agar para relawan tetap berdiri tegak di tengah bencana yang juga menimpa mereka.
“Relawan adalah energi dari seluruh gerakan ini,” kata Alven. “Jika mereka kuat, maka banyak orang bisa tertolong.”
Editor : Fix Sumbar


