Ia menyoroti pertumbuhan ekonomi daerah yang dinilai tertinggal. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Sumbar hanya berkisar 3,3 hingga 3,5 persen, sementara inflasi mencapai sekitar 6 persen.
“Itu artinya terjadi pemiskinan terstruktur setiap tahun. Pendapatan naik tiga persen, tapi biaya hidup naik enam persen,” katanya.
Dony mengingatkan bahwa kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama. Ia menilai Semen Padang memiliki peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
“Kita di Semen Padang punya PR besar untuk menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar,” tegasnya.
Ia juga membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu, ketika Sumbar pernah menjadi rujukan pendidikan dan ekonomi di Sumatera. Kini, menurutnya, sejumlah daerah lain justru melampaui capaian ekonomi Ranah Minang.
“Dulu Sumbar menjadi acuan. Sekarang PDRB Jambi sudah jauh lebih tinggi, Riau apalagi,” ujarnya.
Kritik Sosial dan Ajakan IntrospeksiTidak hanya ekonomi, Dony juga menyinggung berbagai persoalan sosial yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama, mulai dari penyebaran narkoba hingga menurunnya kualitas lingkungan dan peradaban sosial.
Ia menyampaikan kritik tersebut bukan untuk menyalahkan, melainkan sebagai bentuk refleksi bersama masyarakat Minangkabau.
“Mau jadi apa Sumbar ini? Ini kegalauan saya yang lama saya tahan,” katanya.
Editor : Fix Sumbar