Rubuh di Tengah Kukuhnya Marwah Minangkabau

Rubuh di Tengah Kukuhnya Marwah Minangkabau
Rubuh di Tengah Kukuhnya Marwah Minangkabau

Masih terlalu banyak keluarga yang menilai aib lebih berbahaya daripada kejahatan itu sendiri. Nama baik keluarga dianggap harus dijaga, meski yang dikorbankan adalah masa depan anak.

Padahal, dalam kasus kekerasan seksual, diam adalah ruang paling subur bagi pelaku.

Semakin lama kasus ditutup, semakin panjang trauma korban. Entah berapa lagi yang akan menjadi korban.

Kita juga harus jujur mengakui bahwa perubahan zaman ikut menggeser mekanisme kontrol sosial lama. Generasi muda kini hidup di ruang digital, sementara institusi sosial tradisional belum sepenuhnya mampu menyesuaikan diri. Banyak persoalan tumbuh di ruang privat yang tak lagi mudah terdeteksi oleh lingkungan.

Tetapi zaman tidak boleh dijadikan alasan.

Adat, agama, dan hukum seharusnya tetap menjadi pagar utama.

Justru di tengah perubahan inilah, peran pemerintah daerah, lembaga adat, sekolah, tokoh agama, dan keluarga harus diperkuat. Perlindungan anak tidak cukup hanya menjadi slogan dalam pidato seremonial. Ia harus hadir dalam tindakan nyata: edukasi, pendampingan psikologis, penguatan peran keluarga, dan keberanian menindak pelaku tanpa kompromi.

Sebab jika seorang anak harus takut pulang ke rumahnya sendiri, maka yang runtuh bukan hanya moral satu keluarga.

Yang runtuh adalah kepercayaan kita terhadap rumah sebagai tempat paling aman. Dan jika itu terjadi, kemanakah dia akan pulang?

Dan ketika rumah telah kehilangan maknanya, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan korban, tetapi juga marwah sosial yang selama ini kita banggakan sebagai wajah Minangkabau. (***)

Editor : Fix Sumbar
Banner JPS - Bola
Bagikan

Berita Terkait
Terkini