Diam karena keluarga lebih memilih menjaga nama baik daripada keselamatan korban.
Di sinilah persoalan sesungguhnya. Ini, tidak bisa lagi dibaca sebatas “jatuhnya moral.” Istilah itu terlalu sederhana untuk menggambarkan kedalaman luka yang terjadi. Yang kita hadapi adalah kegagalan sosial yang lebih rumit.
Kegagalan pertama ada di ruang keluarga.
Rumah tangga yang seharusnya menjadi sekolah pertama bagi akhlak justru gagal menjadi benteng perlindungan. Relasi kuasa antara orang tua dan anak membuat korban sulit melawan, apalagi bersuara. Anak sering kali terjebak dalam ketakutan yang panjang, merasa tidak memiliki tempat untuk mengadu.
Kegagalan kedua ada pada lingkungan sosial.
Minangkabau selama ini dikenal memiliki struktur sosial yang kuat. Ada keluarga besar, ada mamak, ada ninik mamak, ada tokoh agama, ada tetangga yang secara tradisional saling mengenal. Namun, dua kasus ini memperlihatkan bahwa sistem pengawasan sosial itu mulai kehilangan daya jangkaunya.
Kita hidup berdekatan, tetapi semakin jauh secara batin.Rumah berdempetan, kadang sedinding, tetapi penderitaan di dalamnya bisa bertahun-tahun tak terdengar.
Ini ironi besar bagi masyarakat yang selama ini membanggakan kuatnya kontrol adat.
Kegagalan ketiga ada pada keberanian bersama–sama untuk membuka aib demi keadilan.
Editor : Fix Sumbar