JAKARTA - Selama ini, sosok Dony Oskaria lebih dikenal lewat kerja-kerjanya di balik layar. Putra asli Tanjung Alam, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat itu termasuk figur yang jarang tampil di ruang-ruang publik, apalagi dalam format podcast yang memberi ruang panjang untuk berbicara tentang gagasan dan pandangannya.
Karena itu, kemunculannya dalam sebuah podcast baru-baru ini menjadi perhatian tersendiri. Untuk pertama kalinya, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia itu membuka banyak hal yang selama ini menjadi pertanyaan publik, mulai dari arah transformasi ekonomi nasional, masa depan BUMN, hingga mimpi besar yang ingin diwujudkan melalui Danantara.
Dalam perbincangan yang berlangsung santai namun sarat substansi itu, Dony menggambarkan bagaimana pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, fokus utama pembangunan nasional saat ini berada pada penguatan ketahanan pangan, energi, dan sumber daya manusia sebagai modal utama menghadapi persaingan global.
Di tengah agenda besar tersebut, Danantara hadir sebagai sovereign wealth fund yang mengonsolidasikan kekuatan BUMN agar lebih efisien, profesional, dan memiliki tata kelola yang lebih baik. Melalui skema baru itu, fungsi pengelolaan aset dipisahkan dari fungsi investasi sehingga pengawasan dan pengambilan keputusan dapat berjalan lebih optimal.
Dony juga menjelaskan bahwa pembenahan BUMN tidak dilakukan secara seragam. Ada empat langkah utama yang menjadi strategi transformasi, yakni likuidasi, divestasi, konsolidasi, dan restrukturisasi. Sejumlah perusahaan negara yang selama ini menghadapi persoalan berat, seperti Garuda Indonesia dan Krakatau Steel, disebut menjadi contoh bagaimana proses perbaikan dilakukan secara bertahap.
Di tengah berbagai kritik yang kerap diarahkan kepada perusahaan pelat merah, Dony meluruskan sejumlah persepsi yang berkembang di masyarakat. Ia menegaskan bahwa secara kolektif BUMN masih mencatatkan laba sekitar Rp335 triliun pada 2025. Ia juga memastikan bahwa berbagai program pemerintah, termasuk Koperasi Desa Merah Putih, tidak menggunakan dana Danantara sebagaimana yang banyak dipersepsikan publik.Tak hanya itu, Dony turut menjelaskan pembentukan Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), sebuah instrumen yang disiapkan untuk mengawasi praktik transfer pricing dan under-invoicing di sektor sumber daya alam. Menurutnya, langkah tersebut penting agar nilai tambah dari kekayaan alam Indonesia dapat kembali memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara dan masyarakat.
Namun di balik penjelasan teknokratis mengenai investasi, restrukturisasi, dan tata kelola, ada satu bagian yang paling menarik perhatian. Ketika pewawancara mengibaratkan Danantara seperti "Avengers" karena harus menghadapi begitu banyak persoalan sekaligus dituntut menghasilkan keuntungan, Dony menjawab dengan nada yang jauh dari kesan heroik.
Baginya, pekerjaan besar yang sedang dijalankan bukan hanya soal angka dan laporan keuangan, melainkan tentang warisan yang akan ditinggalkan.
"Sebagaimana yang saya sampaikan di beberapa kesempatan, terutama kepada karyawan Danantara, ini adalah perjalanan untuk meninggalkan legacy. Saya sangat optimistis bahwa kita bisa melakukan ini. Dengan keyakinan penuh, kita akan membuat BUMN-BUMN kita menjadi lebih baik lagi. Tidak ada pilihan lain," ujarnya.
Editor : Fix Sumbar