Dony mengaku, pada fase karier yang sudah matang seperti saat ini, ia tidak lagi memikirkan popularitas atau pengakuan pribadi. Yang terpenting baginya adalah memastikan BUMN berada dalam kondisi yang lebih baik ketika estafet kepemimpinan beralih kepada generasi berikutnya.
"Tidak perlu saya yang dikenang, tetapi paling tidak Danantara berhasil mewujudkan mimpi dan harapan begitu banyak rakyat Indonesia," katanya.
Pernyataan itu menjadi penutup yang memberi warna berbeda dalam perbincangan tersebut. Di tengah besarnya ekspektasi publik terhadap Danantara, Dony justru mengajak masyarakat untuk menjadi pengawas.
Ia menegaskan dirinya tidak alergi terhadap kritik maupun kontrol publik. Sebaliknya, masyarakat diminta ikut memastikan bahwa seluruh janji transformasi yang disampaikan benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata.
Sebab, menurut Dony, keberhasilan sebuah gagasan pada akhirnya tidak ditentukan oleh pidato atau narasi yang dibangun hari ini, melainkan oleh waktu."Kita bisa mengatakan apa saja, tetapi waktulah yang akan menentukan apakah benar kita melakukan apa yang kita janjikan," katanya.
Kalimat itu mungkin sederhana. Namun dari seorang Dony Oskaria yang selama ini lebih banyak bekerja dalam senyap, pesan tersebut menjadi penanda bahwa perjalanan besar menata BUMN dan membangun Danantara baru saja dimulai. Waktulah yang kelak menjadi hakim atas seluruh janji dan harapan yang kini dititipkan kepada Danantara. (*)
Editor : Fix Sumbar