Ekonomi Padang berputar sekitar Rp 61 triliun setahun atau Rp 5 triliun sebulan, kata BPS. Di dalam putaran itu ada satu mesin yang jarang dihitung: mahasiswa. BPS mencatat sekitar 175 ribu mahasiswa belajar di kota ini, terbanyak di Sumatera Barat.
Ambil hitungan paling hemat saja, Rp 1,5 juta seorang sebulan untuk kos, makan, pulsa, bensin, ongkos angkot dan fotokopi serta pacaran dan duduk di kafe buat tugas. Hasilnya sekitar Rp 260 miliar sebulan, lebih dari Rp 3 triliun setahun.
Bandingkan: APBD Padang 2025 hanya Rp 2,86 triliun. Belanja mahasiswa lebih besar daripada anggaran kota. Uang itu disetor tiap bulan oleh orang tua dari seluruh pelosok, tanpa rapat paripurna, tanpa pansus. Emak dan abak dengan tangan bergetar menghitung uang, bagi yang tak kaya. Enteng saja oleh yang kaya.
Yang mana pun, uang itu anak mereka, yang dengan serempak mereka menyumbang untuk kota ini. Mahasiswa itulah APBD kedua Padang. Kota ini belum pernah sungguh-sungguh berterima kasih pada mereka. Lupa. Tentu juga lupa merancang masa depan bersama mereka.
Padang, kota kita tempat saya puluhan tahun cari berita. Bukan sekadar mencari, mencatat dan menyimpan catatan serta klipingnya. Sebagian masih lekat di kepala, sisanya tersimpan dalam lemari. Kota ini tampak bergerak lamban, nyaris tambun. Barek. Apa yang mesti dilakukan pemerintah dan warganya agar kota ini bisa bagai rumah sendiri?
Jawabannya operasional saja. Pertama, urus air. Rumah yang tiap tahun terendam tak akan pernah terasa rumah. Normalisasi sungai-sungai kota, hijaukan kembali hulu Kuranji dan Air Dingin, bersihkan drainase sebelum musim hujan, bukan sesudah banjir. Kedua, satu meja.
Wali kota memanggil para rektor, Semen Padang, Pelindo di Teluk Bayur dan para pengusaha, lalu merancang lima industri pengolahan dalam lima tahun. Tertulis, ada tenggat, diumumkan ke publik agar bisa ditagih. Ketiga, urus mahasiswa sebagai aset, bukan sekadar penghuni kos.Kartu mahasiswa kota: angkot dan Trans Padang murah, ruang belajar, magang di perusahaan daerah. Kota yang ramah pada 175 ribu anak muda akan terus dipilih oleh angkatan berikutnya. Keempat, panggil perantau dengan proyek jelas dan angka jujur. Semuanya bisa dimulai tahun ini juga, tak satu pun menunggu Jakarta.
Tuna. Ini misal dan kalau mau, kalau tidak tak apa-apa pula. Bagaimana kalau serius menggarapnya. Ini datanya. Di Bungus, masih dalam wilayah kota ini, berdiri Pelabuhan Perikanan Samudera, satu-satunya di Pulau Sumatera yang pernah mengekspor langsung tuna segar ke Jepang dan tuna loin beku ke Amerika.
Lautnya WPP 572, Samudera Hindia, salah satu ladang tuna terbaik dunia. Tapi, unit pengolahan di sana cuma satu, kapasitasnya 20 ton sehari, dan tuna yang diolah pada 2024 hanya sekitar 500 ton setahun, nilainya Rp 22 miliar. Padang duduk di depan tambang emas dengan satu sekop kecil.
Editor : Fix Sumbar


