Padahal ikan itu bisa berlapis-lapis nilainya. Yang terbaik diterbangkan segar dari BIM ke Tokyo. Lapis kedua, loin beku ke Amerika dan Eropa. Lapis ketiga, kaleng. Lapis keempat, kepala dan tulangnya jadi tepung dan minyak ikan, tak ada yang terbuang. Cerminnya ada
General Santos di Filipina membangun seluruh kotanya dari satu ikan yang sama sampai berjuluk ibu kota tuna. Padang punya laut yang sama, pelabuhan samudera yang sudah berdiri, bandara internasional dan Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta. Naikkan ke 200 ton sehari dalam sepuluh tahun. Semua bahan sudah di atas meja, tinggal dimasak.
Bahwa pembelinya ada, itu bukan teori. Buktinya tersimpan di kliping saya sendiri. November 2017, sembilan tahun lalu, saya ikut rombongan Gubernur Irwan Prayitno ke Los Angeles. Di kantor H&N Group, presidennya, Hua Ngo, berkata ia biasa membeli udang dalam jumlah besar dari Medan dan Lampung. Ia ingin menanam modal di Sumbar untuk patin, sebanyak lahan yang bisa disediakan, seperti yang sudah ia kerjakan di Vietnam.
Sesudah itu kami bertemu Red Chamber Co, perusahaan perikanan, yang menyatakan siap menerima ekspor nila dari Sumbar. Laporan itu terbit di Singgalang, judulnya "Los Angeles Minta Udang, Patin dan Nila". Bacalah pelan-pelan: pembeli sudah datang mengetuk pintu sembilan tahun lalu. Udangnya mereka beli ke Medan dan Lampung, bukan ke sini. Sampai hari ini masih begitu. Yang kurang bukan pasar, bukan laut, bukan lahan. Yang kurang hanya kesungguhan menggarap.
Ulang tahun ke-357 ini sebaiknya jadi garis batas. Sebelum ini, Padang boleh jadi kota yang merayakan masa lalunya. Sesudah ini, ia harus mengingat kembali siapa dirinya: pelopor, pencipta, bukan sekadar pedagang di tepi laut yang kebanjiran.Sebab kota yang lupa pada dirinya akan dilupakan zaman. Padang terlalu tua dan terlalu terhormat untuk nasib semacam itu.
Padang, 7 Agustus 2026
Editor : Fix Sumbar


